dr. Maharani Soroti Tingginya Temuan Influenza pada Anak Usia Dini

  1. Beranda
  2. Berita
  3. KOMISI IX
dr. Maharani Soroti Tingginya Temuan Influenza pada Anak Usia Dini Anggota Komisi IX DPR RI, dr. Maharani

dr. Maharani Soroti Tingginya Temuan Influenza pada Anak Usia Dini

JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI, dr. Maharani, menyoroti peningkatan aktivitas influenza di Indonesia, terutama setelah data surveilans Kementerian Kesehatan menunjukkan kelompok anak usia dini cukup banyak ditemukan di antara kasus influenza yang terdeteksi.

Berdasarkan laporan surveilans Kementerian Kesehatan, pada minggu ke-37 dari 265 spesimen yang diperiksa terdapat 148 spesimen positif influenza atau sekitar 56 persen. Dari kasus influenza yang terdeteksi tersebut, 39 persen terjadi pada kelompok usia 0–4 tahun. Angka 56 persen merupakan proporsi spesimen positif dari surveilans sentinel, bukan persentase masyarakat Indonesia yang terkena influenza.

dr. Maharani mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi orang tua dan fasilitas pelayanan kesehatan, namun tidak perlu menimbulkan kepanikan di masyarakat.

“Yang perlu menjadi perhatian adalah cukup banyaknya temuan pada anak usia dini. Orang tua perlu lebih peka terhadap kondisi anak, terutama apabila demam atau gejala pernapasan tidak membaik, anak terlihat lemas, sulit makan atau minum, maupun muncul tanda yang mengkhawatirkan,” ujar dr. Maharani.

Menurut Kementerian Kesehatan, peningkatan aktivitas influenza pada akhir September 2026 masih mengikuti pola musiman. Pada surveilans puskesmas, aktivitas influenza berada pada kategori sedang, sementara surveilans rumah sakit masih berada pada kategori rendah. Virus yang dominan ditemukan adalah Influenza A(H1N1)pdm09.

dr. Maharani menilai kesiapan layanan kesehatan primer penting agar masyarakat mendapatkan informasi dan penanganan yang tepat sejak awal.

“Puskesmas adalah layanan yang paling dekat dengan masyarakat. Edukasi harus mudah dipahami, mulai dari cara mencegah penularan, kapan cukup melakukan perawatan di rumah, sampai kapan anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak panik atau mengonsumsi obat antivirus tanpa pemeriksaan dan pertimbangan tenaga medis. Kementerian Kesehatan sebelumnya menegaskan bahwa mayoritas influenza dapat sembuh sendiri dan penggunaan oseltamivir tidak ditujukan untuk dikonsumsi secara massal atau sekadar untuk berjaga-jaga.

Selain anak-anak, kewaspadaan juga perlu diberikan kepada kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi, seperti lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit penyerta.

“Kita tidak perlu membuat masyarakat takut. Yang dibutuhkan adalah kewaspadaan, informasi yang benar, dan tahu kapan harus mencari pertolongan medis. Kalau sedang sakit, istirahat, kurangi aktivitas yang berpotensi menularkan kepada orang lain, dan jangan ragu memeriksakan diri apabila kondisinya memburuk,” jelasnya.

dr. Maharani berharap peningkatan aktivitas influenza menjadi pengingat untuk memperkuat edukasi kesehatan, deteksi dini, dan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya dalam melindungi kelompok yang lebih rentan.

“Jangan sampai masyarakat panik karena informasi yang belum tentu benar. Yang perlu kita perkuat justru informasi kesehatan yang jelas, deteksi dini, serta kesiapan pelayanan ketika masyarakat membutuhkan,” tutup dr. Maharani.

Share: