Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya saat berdiskusi dengan mitra kerja terkait persiapan penyelenggaraan ibadah haji 1448 H/2027 M di Medan,(2/10). Foto: do.go.id
Atalia Praratya Dorong Penambahan Petugas Haji Perempuan Sesuai Komposisi Jemaah
Jakarta – Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya mendorong peningkatan jumlah petugas haji perempuan serta penguatan materi manasik sebagai bagian dari persiapan penyelenggaraan ibadah haji 1448 H/2027 M. Menurutnya, langkah tersebut penting dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah jemaah perempuan yang secara konsisten lebih besar dibandingkan jemaah laki-laki.
Hal tersebut disampaikan Atalia saat mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VIII DPR RI di Kota Medan, Sumatera Utara, Jumat (2/10/26). Dalam agenda tersebut, Komisi VIII menyerap berbagai masukan terkait kesiapan penyelenggaraan ibadah haji sekaligus mengevaluasi pelayanan yang diberikan kepada jemaah.
Atalia mengungkapkan, dari sekitar 5.913 jemaah haji asal Sumatera Utara, terdapat sekitar 3.300 jemaah perempuan dan sekitar 2.500 jemaah laki-laki. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu diikuti dengan ketersediaan petugas haji perempuan yang proporsional agar pendampingan terhadap kebutuhan khusus jemaah perempuan dapat berjalan optimal.
“Kami mendorong agar dari sisi pendampingan untuk ibadah haji, khususnya petugas haji dan juga pendampingan ibadah, mudah-mudahan bisa ditambah dari komposisi jumlah perempuannya,” ujar Atalia.
Ia juga menyoroti perbandingan komposisi petugas haji perempuan dengan jumlah jemaah perempuan pada penyelenggaraan haji 2026. Saat itu, sekitar 55 persen jemaah merupakan perempuan, sementara petugas haji perempuan baru berada di kisaran 33 persen.
Atalia menilai keberadaan petugas perempuan memiliki posisi penting karena dapat membantu memberikan pendampingan yang lebih sesuai terhadap kebutuhan spesifik jemaah perempuan selama rangkaian ibadah haji.
“Kita berharap mudah-mudahan tahun ini tidak ada pengurangan, bahkan harusnya lebih banyak dari itu, karena kita tahu dari tahun ke tahun komposisi perempuan yang akan berangkat ternyata lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki,” jelas legislator Fraksi Partai Golongan Karya tersebut.
Selain persoalan petugas, Atalia turut mendorong adanya penyempurnaan materi manasik haji. Menurutnya, pembekalan kepada calon jemaah tidak cukup hanya mencakup pemahaman mengenai hukum, rukun, wajib, dan sunah dalam ibadah, tetapi juga perlu memberikan pengetahuan praktis selama perjalanan dan pelaksanaan ibadah di Arab Saudi.
“Kita berharap ada pembekalan yang lebih dalam terkait dengan bagaimana cara menggunakan seatbelt misalkan di pesawat terbang, bagaimana terkait dengan keselamatan di pesawat terbang, bagaimana cara menggunakan toilet yang mungkin berbeda dibandingkan dengan toilet yang biasa mereka pergunakan, termasuk juga penggunaan telepon genggam dan lain sebagainya,” tutur Atalia.
Menurut Atalia, materi praktis tersebut akan sangat membantu calon jemaah, khususnya mereka yang belum terbiasa menggunakan sejumlah fasilitas selama perjalanan menuju Tanah Suci. Oleh sebab itu, ia mengusulkan agar pelaksanaan manasik turut dilengkapi dengan simulasi serta materi audiovisual yang mudah dipahami.
“Kami berharap bahkan kalau bisa ada simulasi-simulasi atau video-video yang memberikan edukasi. Saya kira itu akan sangat-sangat membantu bagi calon jemaah haji,” ujarnya.
Berbagai aspirasi dan temuan yang diperoleh dalam kunjungan kerja tersebut, lanjut Atalia, akan menjadi bagian dari pelaksanaan fungsi pengawasan Komisi VIII DPR RI. Masukan dari daerah akan digunakan sebagai bahan evaluasi untuk mendorong peningkatan kesiapan penyelenggaraan ibadah haji 1448 H/2027 M.
“Ini menjadi bagian dari pengawasan kami agar berbagai masukan yang kami terima di lapangan dapat ditindaklanjuti dan menjadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan ibadah haji tahun depan,” pungkas Atalia.
