Menko Bahlil: Hilirisasi Jadi Kunci Dongkrak Ekspor Nikel Indonesia hingga USD45 Miliar

  1. Beranda
  2. Berita
  3. EKSEKUTIF / KABINET
Menko Bahlil: Hilirisasi Jadi Kunci Dongkrak Ekspor Nikel Indonesia hingga USD45 Miliar Menko Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia saat menghadiri pembukaan Trade Expo Indonesia Ke-41 di Tangerang, (14/10). Foto: esdm.go.id

Menko Bahlil: Hilirisasi Jadi Kunci Dongkrak Ekspor Nikel Indonesia hingga USD45 Miliar

Jakarta – Pemerintah menargetkan nilai ekspor nikel Indonesia mencapai sedikitnya USD45 miliar pada 2026. Target tersebut didukung keberhasilan kebijakan hilirisasi yang mampu meningkatkan nilai ekspor secara signifikan, dari sekitar USD3,3 miliar pada 2017–2018 menjadi lebih dari USD40 miliar pada 2025.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan hal tersebut saat mewakili Presiden RI Prabowo Subianto membuka Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Tangerang, Rabu (14/10/26).

Menurut Bahlil, kebijakan hilirisasi menjadi langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam sekaligus memperkuat fondasi perekonomian nasional. Penghentian ekspor bijih nikel mentah dan pembangunan fasilitas pengolahan di dalam negeri telah mendorong peningkatan nilai ekspor komoditas tersebut.

"Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional," ujar Bahlil.

Ia menjelaskan, perkembangan ekspor nikel Indonesia menunjukkan peningkatan yang konsisten sejak kebijakan hilirisasi diterapkan. Nilai ekspor yang sebelumnya berada di kisaran USD3,3 miliar pada 2017–2018 meningkat menjadi USD34 miliar pada 2023, kemudian melampaui USD40 miliar pada 2025.

Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa pengolahan sumber daya alam di dalam negeri mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan menjual bahan mentah. Karena itu, pemerintah berupaya melanjutkan pengembangan industri pengolahan agar kontribusi sektor tersebut terhadap perekonomian nasional semakin meningkat.

Bahlil menegaskan, manfaat hilirisasi tidak hanya tercermin dari pertumbuhan nilai ekspor. Kebijakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengubah struktur ekonomi Indonesia agar tidak terus bergantung pada penjualan komoditas mentah.

Pengembangan industri pengolahan dinilai dapat mendorong pertumbuhan berbagai sektor pendukung, memperluas keterlibatan pengusaha nasional, meningkatkan penguasaan teknologi, serta menciptakan lapangan kerja baru. Selain itu, hilirisasi membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas jangkauan pasar produk bernilai tambah di tingkat internasional.

Untuk memperluas keberhasilan tersebut ke berbagai sektor, pemerintah telah menyusun peta jalan hilirisasi hingga 2040 dengan sasaran investasi mencapai USD618 miliar. Program ini mencakup beragam bidang, mulai dari mineral dan batu bara, minyak dan gas bumi, kehutanan, perikanan, hingga pertanian.

"Saya ingin menyampaikan bahwa master plan ke depan hilirisasi Indonesia pada tahun 2040 target kita mencapai 618 miliar USD," ungkap Bahlil.

Melalui peta jalan tersebut, pemerintah berupaya memperluas kegiatan pengolahan sumber daya alam agar manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat menjangkau lebih banyak sektor dan wilayah di Indonesia.

Bahlil menilai keberhasilan hilirisasi nikel menjadi bukti penting bahwa penguatan industri pengolahan mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Oleh karena itu, pemerintah akan terus mendorong investasi di sektor hilirisasi guna mengoptimalkan pemanfaatan kekayaan alam nasional.

Pemerintah berharap kebijakan tersebut tidak hanya meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi dan memastikan kekayaan sumber daya alam memberikan manfaat yang lebih luas bagi kesejahteraan masyarakat.

Share: