HBA Tampung Aspirasi Guru Madrasah Sarolangun, Siap Bawa ke Kemenag RI

  1. Beranda
  2. Berita
  3. KOMISI VIII
HBA Tampung Aspirasi Guru Madrasah Sarolangun, Siap Bawa ke Kemenag RI Anggota Komisi VIII DPR RI, Hasan Basri Agus

HBA Tampung Aspirasi Guru Madrasah Sarolangun, Siap Bawa ke Kemenag RI

Jakarta – Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi Partai Golkar Daerah Pemilihan Jambi, Drs. H. Hasan Basri Agus, MM (HBA), berkomitmen memperjuangkan aspirasi tenaga pendidik madrasah di Kabupaten Sarolangun. Sejumlah persoalan yang disampaikan para guru, mulai dari kebutuhan beasiswa hingga dukungan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, akan dihimpun sebagai bahan pembahasan bersama Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI).

Aspirasi tersebut diserap HBA dalam Forum NGOPI (Ngobrol Pendidikan Islam) yang diselenggarakan melalui kolaborasi Komisi VIII DPR RI, Kementerian Agama RI, dan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi. Kegiatan berlangsung di Aula Abadi Hotel Sarolangun, Sabtu (17/10/26).

Mengangkat tema “Transformasi Pembelajaran Melalui Pengembangan Modul Ajar Berbasis KBC (Kurikulum Berbasis Cinta)”, forum ini diikuti guru Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), serta alumni Pendidikan Profesi Guru (PPG) dari berbagai wilayah di Kabupaten Sarolangun.

Bagi HBA, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan mengenai pengembangan metode pembelajaran. Forum NGOPI juga dimanfaatkan untuk menggali secara langsung berbagai tantangan yang dihadapi guru dan lembaga pendidikan Islam, sekaligus menyampaikan kebutuhan mereka kepada pemangku kebijakan di tingkat nasional.

HBA mengatakan, seluruh aspirasi yang terhimpun akan menjadi bahan untuk ditindaklanjuti melalui mekanisme Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Kementerian Agama RI.

“Kegiatan NGOPI ini kami laksanakan melalui kerja sama Komisi VIII DPR RI, Kementerian Agama RI, dan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Kami ingin mendengar langsung masukan, aspirasi, serta berbagai kendala yang dihadapi para guru dalam menjalankan tugasnya,” ujar HBA.

Menurutnya, dialog langsung dengan para pendidik penting untuk memperoleh gambaran nyata mengenai kondisi pendidikan madrasah di daerah. Dengan mendengarkan pengalaman dan kendala yang mereka hadapi, persoalan pendidikan Islam dapat dipetakan secara lebih jelas dan menjadi dasar dalam merumuskan langkah penyelesaian bersama instansi terkait.

Dalam sesi diskusi, para guru dan alumni PPG menyampaikan sejumlah kebutuhan yang dinilai memerlukan perhatian pemerintah. Beberapa di antaranya meliputi akses beasiswa, bantuan pembangunan maupun perbaikan fasilitas madrasah, serta dukungan terhadap implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

Aspirasi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan mutu pendidikan Islam membutuhkan dukungan yang menyeluruh. Selain pengembangan kemampuan dan profesionalitas guru, ketersediaan fasilitas pendidikan yang memadai serta akses terhadap program bantuan juga menjadi faktor penting dalam menunjang kegiatan belajar mengajar.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, HBA memberikan penjelasan mengenai peluang dukungan dan kebijakan pemerintah yang dapat menjadi perhatian. Ia menegaskan bahwa aspirasi dari daerah perlu dihimpun secara sistematis agar dapat disampaikan dan dibahas melalui jalur kelembagaan yang sesuai.

Melalui mekanisme tersebut, berbagai persoalan yang dihadapi guru madrasah di Sarolangun diharapkan tidak berhenti sebagai masukan dalam forum diskusi, tetapi dapat menjadi bahan evaluasi dalam pembahasan bersama Kemenag RI.

Upaya ini sekaligus membuka ruang komunikasi yang lebih luas bagi para pendidik untuk menyampaikan kebutuhan mereka kepada wakil rakyat di DPR RI yang membidangi urusan agama.

Dorong Transformasi Pembelajaran Berbasis Kurikulum Cinta

Selain memperjuangkan kebutuhan guru dan lembaga pendidikan, HBA menekankan pentingnya pembaruan metode pembelajaran melalui pengembangan modul ajar berbasis Kurikulum Berbasis Cinta.

Ia berpandangan, tanggung jawab guru tidak sebatas menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik. Guru juga memegang peranan penting dalam membangun karakter, menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, serta menciptakan suasana belajar yang mampu mendorong setiap anak mengembangkan potensinya.

Pendekatan pembelajaran yang humanis diharapkan dapat memperkuat kualitas pendidikan Islam sekaligus membekali generasi muda dengan karakter yang baik di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman.

Untuk mewujudkan hal tersebut, penguatan kompetensi tenaga pendidik perlu dilakukan secara berkelanjutan dan diiringi dengan penyediaan dukungan yang memadai bagi madrasah. Pengembangan metode dan modul ajar juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik agar proses pembelajaran berjalan lebih efektif.

Dekan FTK UIN STS Jambi, Dr. Hj. Fadillah, M.Pd., yang hadir mewakili Rektor UIN STS Jambi, Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd.I., menjelaskan bahwa Forum NGOPI dirancang untuk menyerap persoalan yang dihadapi guru sekaligus mendorong lahirnya inovasi dalam proses pembelajaran.

Ia menyoroti pentingnya penerapan Kurikulum Berbasis Cinta yang dipadukan dengan pembelajaran berdiferensiasi. Pendekatan ini menempatkan kebutuhan, karakteristik, dan kemampuan masing-masing peserta didik sebagai pertimbangan dalam merancang kegiatan belajar mengajar.

Menurutnya, peningkatan kompetensi guru harus terus berlanjut meskipun kegiatan pelatihan, lokakarya, atau *workshop* telah selesai dilaksanakan. Guru, termasuk para alumni PPG, diharapkan mampu mengembangkan dan menyempurnakan modul ajar serta menerapkan berbagai inovasi pembelajaran secara konsisten di sekolah masing-masing.

Perkuat Sinergi Guru, Akademisi, dan Pemangku Kebijakan

Forum NGOPI tersebut dipandu Tenaga Ahli Utama DPR RI, Ir. H. Syahrasaddin, M.Si. Kegiatan ini juga menghadirkan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sarolangun, Mat Alimartado, S.Ag., M.Pd.I., sebagai narasumber, bersama perwakilan perguruan tinggi keagamaan dan pemangku kepentingan pendidikan Islam lainnya.

Diskusi berlangsung secara terbuka dan interaktif. Para peserta memperoleh kesempatan untuk menyampaikan pengalaman serta tantangan yang mereka hadapi, baik dalam pelaksanaan pembelajaran maupun dalam pengelolaan lembaga pendidikan madrasah.

Interaksi tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif guru, akademisi, dan pemerintah mengenai kebutuhan pengembangan pendidikan Islam. Dengan demikian, pembahasan tidak hanya berfokus pada inovasi pembelajaran, tetapi juga mencakup persoalan kelembagaan yang memerlukan dukungan kebijakan.

HBA berharap Forum NGOPI dapat memperkuat komunikasi antara tenaga pendidik, kalangan akademisi, dan pembuat kebijakan. Menurutnya, masukan yang disampaikan langsung oleh guru merupakan bagian penting dalam upaya memperbaiki kualitas pendidikan madrasah.

Ia menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan perlu dilakukan melalui dua pendekatan yang saling melengkapi, yakni transformasi pembelajaran di ruang kelas dan pemenuhan kebutuhan nyata para guru serta lembaga pendidikan.

Dengan membawa aspirasi guru madrasah di Sarolangun ke dalam pembahasan bersama Kemenag RI, HBA berharap berbagai persoalan yang teridentifikasi dapat memperoleh perhatian dan ditindaklanjuti sesuai kewenangan serta ketentuan yang berlaku.

Share: