Anggota Komisi XI DPR RI, Puteri Anetta Komarudin
Puteri Komarudin Apresiasi Capaian Kinerja Ekonomi Nasional 2025 di Tengah Tingginya Ketidakpastian Global
Jakarta- Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Puteri Anetta Komarudin, mengapresiasi kinerja perekonomian nasional di tahun 2025 lantaran tetap resilien dan stabil di tengah tingginya ketidakpastian global.
Ia mengatakan bahwa sejak triwulan I sampai III 2025, produk domestik bruto (PDB) Indonesia juga mampu tumbuh secara berturut-turut di angka 4,87%, 5,12%, dan 5,04%.
“Resilensi ini tentu ditopang oleh kuatnya konsumsi domestik, investasi, dan ekspor,” kata Puteri kepada wartawan di Jakarta, Sabtu,(27/12/25).
Ia mengingatkan bahwa dengan kinerja tersebut IMF juga merevisi naik target pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,2% pada tahun 2025.
Menurutnya, hal tersebut, tentu menjadi sinyal positif yang memperkuat optimisme terhadap kemampuan Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% tahun 2025 sebagaimana ditetapkan dalam APBN.
“Capaian ketahanan ekonomi sepanjang tahun ini tidak terlepas dari peran berbagai paket stimulus yang telah disiapkan oleh pemerintah bersama otoritas terkait,” ungkapnya.
Atas dasar tersebut, Puteri berharap bahwa keberlanjutan dan efektivitas paket stimulus tersebut perlu terus diperkuat, terutama yang berorientasi pada penguatan daya beli masyarakat.
Puteri menjelaskan bahwa hal tersebut bertujuan untuk menjaga momentum pemulihan konsumsi, sekaligus mencegah penurunan kelas menengah (middle class).
“Di sisi lain, pengelolaan ritme belanja pemerintah juga perlu dilakukan secara lebih terukur dan konsisten agar penyerapan anggaran optimal serta memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi,” jelas Bendahara Fraksi Partai Golkar DPR RI ini.
Selain itu, menurutnya, pemerintah dan regulator juga perlu terus mendorong pertumbuhan kredit, khususnya di sektor UMKM.
Di tengah kebijakan penempatan dana serta suku bunga acuan yang relatif rendah, efektivitas transmisi kebijakan tersebut perlu dipastikan agar benar-benar mendorong penyaluran kredit ke sektor riil.
“Oleh karena itu, pemerintah dan regulator perlu melakukan pemantauan secara berkelanjutan guna meningkatkan permintaan kredit sekaligus menurunkan suku bunga kredit. Dengan demikian, berbagai upaya ini harapannya dapat mengejar pertumbuhan ekonomi 5,4% sesuai target pada APBN 2026,” tutupnya.
