Menteri Bahlil: Pemerintah Siapkan CNG Tabung 3 Kg, Alternatif Lebih Murah dari LPG

  1. Beranda
  2. Berita
  3. EKSEKUTIF / KABINET
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia saat berbicara dalam acara Himpunan Alumni IPB di Jakarta, Sabtu (2/5). Foto: ANTARA

Menteri Bahlil: Pemerintah Siapkan CNG Tabung 3 Kg, Alternatif Lebih Murah dari LPG

Jakarta — Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menjajaki pengembangan compressed natural gas (CNG) dalam tabung berkapasitas 3 kilogram (kg) sebagai opsi pengganti liquefied petroleum gas (LPG) bersubsidi 3 kg.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa pemanfaatan CNG sebenarnya sudah mulai diterapkan di berbagai sektor, seperti hotel, restoran, hingga dapur pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sumber energi tersebut berasal dari produksi dalam negeri, dan kini pemerintah bersiap memperluas penggunaannya ke sektor rumah tangga.

“Untuk yang 3 kilogramnya ini baru mau dibuat. Dan ini ongkosnya lebih murah 30–40 persen,” kaya Menteri Bahlil saat menghadiri acara Himpunan Alumni IPB di Jakarta, Sabtu (2/5/26).

Walaupun prospeknya dinilai menjanjikan, Bahlil tidak menampik bahwa pengembangan CNG masih menemui sejumlah kendala. Meski begitu, pemerintah tetap berkomitmen mendorong implementasinya guna meningkatkan efisiensi energi sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

Secara teknis, CNG merupakan bahan bakar gas yang dihasilkan melalui proses kompresi gas alam, terutama yang mengandung metana (C1) dan etana (C2). Gas tersebut kemudian disimpan serta didistribusikan menggunakan tabung bertekanan tinggi, berkisar antara 200 hingga 250 bar (sekitar 2.900–3.600 psi).

Tabung penyimpanan CNG dirancang dengan standar ketahanan tekanan yang tinggi, sehingga dinilai aman dalam proses penyimpanan maupun distribusi.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, konsumsi LPG nasional saat ini mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun. Namun, produksi domestik hanya mampu memenuhi sekitar 1,6 hingga 1,7 juta ton, sementara sisanya masih bergantung pada impor.

Dalam konteks tersebut, pengembangan CNG dipandang sebagai salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional, terutama di tengah ketidakpastian global. Selain itu, upaya ini juga melengkapi strategi lain seperti peningkatan lifting minyak dan gas bumi (migas), diversifikasi bahan bakar minyak melalui program B50, serta pengembangan alternatif LPG.