Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI / Anggota Timwas Haji DPR RI 2026, Singgih Januratmoko saat memberikan keynote speech dalam Rapat Koordinasi dengan Petugas Haji Daerah se-Provinsi Jawa Tengah di Kantor Sektor 5, Makkah, (23/5). Foto: dpr.go.id
Timwas Haji DPR Soroti Kerawanan Armuzna, Koordinasi Petugas Jadi Kunci
Jakarta — Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI 2026, Singgih Januratmoko mengingatkan seluruh petugas haji untuk meningkatkan koordinasi menghadapi fase puncak ibadah haji di Armuzna yang meliputi Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Tahapan tersebut dinilai sebagai fase paling krusial sekaligus rawan dalam rangkaian pelaksanaan ibadah haji.
Pernyataan itu disampaikan Singgih saat memberikan keynote speech dalam Rapat Koordinasi Petugas Haji Daerah se-Provinsi Jawa Tengah yang berlangsung di Kantor Sektor 5, Makkah, Arab Saudi, Sabtu (23/5/26).
Menurutnya, konsentrasi jutaan jemaah dari berbagai negara pada waktu dan lokasi yang sama berpotensi memunculkan berbagai persoalan di lapangan, terlebih dengan kondisi cuaca ekstrem yang mencapai lebih dari 40 derajat Celsius.
“Situasi di Armuzna tidak mudah. Mungkin akan dinampakkan keegoisan anggota tim kita, mungkin akan ada perdebatan dan rebutan hak tempat di maktab,” kata Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI ini.
Singgih menegaskan, peran Ketua Kloter sangat menentukan dalam memastikan kelancaran mobilitas dan pelayanan jemaah selama berada di Armuzna. Ia meminta para Ketua Kloter aktif membangun komunikasi dengan PPIH maupun pihak syarikah sebagai penyedia layanan.
“Ketua Kloter adalah ujung tombak dalam mengorkestrasi kenyamanan jemaah selama di Armuzna,” ujar Politisi Fraksi Partai Golkar ini.
Ia juga menyoroti pentingnya kesiapan teknis sebelum proses pergerakan jemaah dilakukan. Berbagai aspek, mulai dari jumlah armada, kapasitas bus, fasilitas ramah lansia, hingga kepastian lokasi maktab di Arafah, disebut harus dipastikan secara rinci dan terkoordinasi.
“Jam berapa jemaah akan diantar ke Arafah, berapa jumlah bus yang akan mengantar, apakah bus yang digunakan ramah lansia, semua harus dikoordinasikan,” tegasnya.
Selain mobilisasi menuju Arafah, Singgih meminta petugas menyiapkan pola pendampingan yang matang saat mabit di Muzdalifah dan pelaksanaan lontar jumrah di Mina. Termasuk di dalamnya pemetaan jemaah Nafar Awal dan Nafar Tsani guna menghindari penumpukan jemaah.
Menutup arahannya, Singgih mengajak seluruh petugas menjaga kondisi fisik dan memperkuat soliditas tim demi memberikan pelayanan maksimal bagi jemaah haji Indonesia.
“Jaga sehat, jaga semangat, bertugaslah dengan sepenuh hati, kembali ke tanah air dengan sehat dan selamat,” pungkasnya.
