Anggota Komisi VII DPR RI, Mujakkir Zuhri
Mujakkir Zuhri; Pariwisata Harus Zero Accident, Fokus Pembenahan Faktor Keselamatan dan Kenyamanan
Jakarta- Dalam upaya mewujudkan rasa aman pada wisatawan, Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Mujakkir Zuhri meminta Kementerian Pariwisata untuk mengakselerasi pergeseran fokus dari kuantitas kunjungan ke kualitas pengalaman, nilai ekonomi, keberlanjutan, dan manfaat sosial.
Pernyataan tersebut disampaikan Mujakkir untuk menanggapi salah satu kasus kecelakaan di area pariwisata, yaitu kasus kecelakaan kapal laut yang mengakibatkan kematian pelatih Valencia, Fernando Martin Carreras yang tenggelam di Labuan Bajo.
“Ke depan sektor Pariwisata harus zero accidents dan berkesan, maka faktor keselamatan dan kenyamanan menjadi salah satu fokus pembenahan yang harus diperhatikan bersama,” kata Mujakkir dalam keterangan tertulisnya, Minggu (4/1/25).
Mujakkir menegaskan bahwa pola perjalanan wisata yang menghadirkan tantangan sekaligus peluang harus dijawab dengan kreativitas dan kolaborasi.
“Sehingga strategi yang tepat tentu akan meningkatkan jumlah kunjungan nantinya,” ucapnya.
Ia menekankan bahwa sektor pariwisata tidak hanya dihitung dari berapa jumlah orang yang datang tapi juga dari sisi pengalaman berharga bagi pengunjung dan memberikan dampak terhadap ekonomi sekitar.
Mujakkir menyebutkan, tren wisata 2026 yaitu wellness, ekowisata, gastronomi, budaya otentik, dan adopsi digital, yang akan mendorong peningkatan devisa, pemberdayaan komunitas, dan daya saing global Indonesia melalui kolaborasi strategis dan pemanfaatan teknologi.
“Tidak boleh lagi sektor pariwisata hanya dipandang hanya sebagai sektor hiburan tetapi sebagai investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat guna memperkuat harapan bahwa pariwisata akan tumbuh ke arah yang lebih jelas, lebih aman, dan lebih berkelanjutan,” ungkapnya.
Mujakkir menilai banyak destinasi wisata yang dikunjungi wisatawan luar negeri maupun dalam negeri yang mencari pengalaman yang mendalam. Namun, ingin merasakan kehidupan masyarakat lokal, tradisi, musik, kuliner, serta cerita kehidupan di balik sebuah destinasi.
“Pendekatan pariwisata berkualitas mengajak seluruh ekosistem untuk menghadirkan pengalaman yang lebih otentik, ramah lingkungan, dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar karenanya Kemenpar harus mengorkestrasi potensi-potensi wisata yang dalam upaya mendorong pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan,” jelasnya.
Upaya lain yang harus dilakukan untuk meningkatkan jumlah pengunjung atau pariwisata luar negeri dan dalam negeri yaitu harus memberikan harga tiket transportasi yang terjangkau. Sebab, mahalnya biaya transportasi seperti pesawat membuat wisatawan enggan ke destinasi wisata di Indonesia.
“Salah satu yang bisa tingkatkan kunjungan wisatawan adalah Tiket pesawat yang ramah di kantong. Maka Menteri Pariwisata harus berkoordinasi dengan stakeholder terkait termasuk Menhub dan penyedia jasa penerbangan,” bebernya.
Seperti diketahui bahwa belakangan ini, daerah pariwisata seperti Bali dan daerah lainnya mengalami penurunan kunjungan, yang kemungkinan besar karena negara-negara tetangga menawarkan biaya perjalanan yang murah.
“Ini harus kita pikirkan bagaimana biaya perjalanan terjangkau dan geliat pariwisata Indonesia meningkat dan perekonomian masyarakat daerah pun bertumbuh,” tutup Mujakkir.
