Firman Soebagyo Dorong Penguatan Hilirisasi Produk Holtikultura Nasional

  1. Beranda
  2. Berita
  3. KOMISI IV
Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo saat Kunker Spesifik Komisi IV DPR RI dengan para pemangku kepentingan di Kebun Benih Hortikultura Tawangmangu, Karanganyar, (22/1). Foto : dpr.go.id

Firman Soebagyo Dorong Penguatan Hilirisasi Produk Holtikultura Nasional

Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Firman Soebagyo menyoroti pentingnya penguatan hilirisasi produk hortikultura nasional yang saat ini dinilai masih kalah saing dengan produk impor, khususnya di pasar modern. Hal tersebut disampaikan Firman dalam agenda Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI dengan para pemangku kepentingan di Kebun Benih Hortikultura Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (22/1/26).


Meskipun komoditas holtikultura nasional seperti durian, bawang putih, singkong, ubi jalar, hingga cabai memiliki kualitas yang tidak kalah dengan produk impor, ia menilai permasalahan utama yang kerap dihadapi adalah lemahnya jaringan pemasaran dan minimnya upaya branding produk hortikultura lokal.

Menurutnya, Kondisi tersebut, menyebabkan produk dalam negeri sulit menembus pasar modern yang selama ini didominasi oleh komoditas impor. “Seperti di Karanganyar ini, duriannya berkualitas dan punya potensi besar tetapi kalau tidak memiliki jaringan di pasar modern dan branding yang kuat, tentu akan sulit bersaing,” kata Firman saat diwawancarai wartawan usai pertemuan.

Oleh karena itu, tegasnya, perhatian utama ke depan pemerinta adalah perlu menguatkan hilirisasi sektor pertanian, tidak hanya pada aspek produksi, akan tetapi juga aspek pemasaran dan pemanfaatan teknologi pendukung bagi petani. 

“Justru hilirnya ini yang perlu disentuh. Yang penting adalah bagaimana membangun hilirisasi sektor pertanian sampai kepada branding, kemudian bikin jaringan pasar, serta teknologi yang bisa memberikan pendampingan kepada petani,” tegas Firman

Sebagai penutup, Firman meminta pemerintah agar berani mengambil kebijakan strategis, termasuk penghentian impor pada komoditas tertentu guna menciptakan keseimbangan antara produksi dan pemasaran dalam negeri. 

"Kasih harga yang cukup reasonable dan menguntungkan bagi petani, kemudian digenjot produksinya, impor-nya di-stop. Komoditas lainnya juga begitu, kita harus meniru atau mengadopsi keberhasilan swsembada beras,” tutup Firman