Di Tengah Krisis Energi, Menteri ESDM dan Menkeu Upayakan Harga BBM Subsidi Tak Naik

  1. Beranda
  2. Berita
  3. EKSEKUTIF / KABINET
Menteri ESDM RI, Bahlil Lahadalia bersama Menkeu RI, Purbaya Yudhi Sadewa

Di Tengah Krisis Energi, Menteri ESDM dan Menkeu Upayakan Harga BBM Subsidi Tak Naik

Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia bersama Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengupayakan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, seperti Pertalite dan solar, tidak naik di tengah krisis energi.

“Saya dengan Menteri Keuangan sekarang terus menerus untuk mencari solusi yang terbaik. Sekalipun krisis, tetapi tetap kami perhatian keadaan rakyat,” kata Menteri Bahlil ketika melakukan sidak di Jawa Tengah, dipantau secara daring dari Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis, (26/3/26).

Diketahui bahwa Presiden Prabowo Subianto disebut memberi arahan kepada Bahlil dan Purbaya untuk mencari jalan keluar agar tidak memberatkan rakyat di tengah krisis energi yang melanda dunia akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.

Menurut Menteri Bahlil, sejauh ini belum ada rencana untuk menaikkan harga bagi BBM bersubsidi. Stok energi yang meliputi BBM jenis bensin, solar, serta LPG pun masih aman.

“Harga sampai sekarang belum ada kenaikan. Kami belum menaikkan harga. Semalam, arahan Pak Presiden adalah mencari akal bagaimana agar kami jangan memberatkan rakyat, untuk (BBM) subsidi,” ucap Menteri Bahlil.

Oleh karena itu, ia meminta dukungan masyarakat berupa konsumsi energi dengan bijak dan tidak melakukan penimbunan, sehingga stok BBM di dalam negeri bisa stabil.

Krisis energi dipicu oleh peperangan antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang sejauh ini dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Iran kemudian membalas agresi militer itu dengan meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.

Teheran juga mengambil kendali Selat Hormuz, jalur pelayaran yang amat penting bagi pasokan minyak sedunia, dengan sebagian besar suplai energi untuk negara-negara Asia pasti melewati kawasan tersebut.