Anggota Komisi VI DPR RI, Ahmad Labib
Ketahanan Energi Nasional: Ahmad Labib Minta Kelompok Mampu Tidak Beralih ke BBM Subsidi
Jakarta – Anggota Komisi VI DPR RI, Ahmad Labib, mengimbau kelompok masyarakat menengah ke atas agar turut mendukung kebijakan ketahanan energi nasional dengan tidak beralih menggunakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Imbauan ini dinilai penting guna memastikan subsidi tetap tepat sasaran bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Menurut Ahmad, kepatuhan terhadap arahan pemerintah akan membantu menghindari lonjakan konsumsi BBM subsidi yang berpotensi membebani anggaran negara. “Sesuai imbauan Menteri ESDM agar kelompok menengah atas tidak beralih menggunakan BBM subsidi. Langkah ini penting untuk menjaga BBM bersubsidi tepat sasaran sekaligus mencegah potensi lonjakan konsumsi yang dapat membebani anggaran negara,” ujar Ahmad dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Ia menekankan bahwa keberhasilan kebijakan energi nasional sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, DPR, dan seluruh elemen masyarakat. Dengan arah kebijakan yang jelas dan dukungan bersama, stabilitas energi diharapkan mampu menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat ketahanan Indonesia dalam menghadapi krisis global.
Ahmad juga menyatakan dukungannya terhadap kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga BBM subsidi sepanjang 2026. Kebijakan tersebut dinilai strategis untuk melindungi daya beli masyarakat serta mengendalikan inflasi. “Kebijakan ini menjadi bantalan penting bagi perekonomian nasional, khususnya dalam menjaga stabilitas biaya logistik dan produksi yang sangat bergantung pada energi,” terangnya.
Lebih lanjut, ia mengapresiasi posisi Indonesia dalam ketahanan energi global. Berdasarkan data terbaru, Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara dengan ketahanan energi terkuat dalam menghadapi krisis energi global 2026, dengan tingkat ketahanan mencapai 77 persen. Capaian ini disebut sebagai bukti keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas energi nasional.
Menurut Ahmad, kekuatan tersebut didukung oleh dominasi sumber energi domestik, yakni batu bara sebesar 48 persen, gas 22 persen, serta kontribusi energi terbarukan, ditambah dengan tingkat ketergantungan impor yang relatif rendah. Ia juga menilai keberhasilan ini tidak lepas dari peran Kementerian ESDM dalam memastikan ketersediaan energi di tengah tekanan global.
“Langkah strategis pemerintah menjaga stok energi, memperkuat rantai pasok, serta mengelola dinamika impor menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional,” kata Ahmad.
Sementara itu, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir 2026. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa keputusan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto usai kunjungan ke Rusia dan Prancis.
Bahlil menegaskan bahwa kebijakan menjaga stabilitas harga BBM subsidi tetap selaras dengan kondisi pasokan energi nasional yang saat ini dalam kondisi aman.
