Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Zulfikar Arse Sadikin usai memimpin Kunjungan Kerja Spesifik ke Kantor Gubernur DIY, (17/6). Foto : dpr.go.id
Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dorong Pemanfaatan Danais DIY Perlu Diperluas Mencakup Aspek Kebudayaan
Jakarta – Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Zulfikar Arse Sadikin, mendorong adanya pengembangan cakupan pemanfaatan Dana Keistimewaan (Danais) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya pada sektor kebudayaan. Ia berpandangan bahwa manfaat Danais perlu dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat melalui program-program yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya dalam pengertian konvensional.
Pernyataan tersebut disampaikan Zulfikar setelah memimpin Kunjungan Kerja Spesifik Komisi II DPR RI ke Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pada Rabu (17/6/26). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka mengevaluasi implementasi Undang-Undang Keistimewaan DIY, termasuk efektivitas penggunaan Dana Keistimewaan sebagai salah satu instrumen pembangunan daerah.
Dalam kesempatan itu, Zulfikar menilai masih terdapat peluang untuk memperluas pemanfaatan Danais, terutama pada aspek kebudayaan. Menurutnya, konsep kebudayaan tidak semestinya dibatasi pada warisan budaya fisik maupun kegiatan adat semata, melainkan mencakup dimensi yang lebih luas.
"Dari sisi penggunaan dana istimewa itu menurut saya perlu ada perluasan pemanfaatan. Misalnya dari sisi kebudayaan, karena kita punya aspek kebudayaan dalam keistimewaan DIY," kata Politisi Fraksi Partai Golkar tersebut kepada Parlementaria.
Ia menjelaskan bahwa kebudayaan mencakup unsur berwujud (tangible) maupun tidak berwujud (intangible). Karena itu, alokasi Dana Keistimewaan dinilai perlu memberikan perhatian yang seimbang terhadap kedua aspek tersebut.
"Kebudayaan itu jangan hanya dimaknai yang tangible saja. Mungkin yang intangible juga, lalu tidak hanya dimaknai pada adat, tari-tarian, atau upacara adat," katanya.
Lebih lanjut, Zulfikar menyoroti pentingnya sektor pendidikan sebagai bagian dari ekosistem kebudayaan. Menurutnya, dukungan terhadap pendidikan tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga memperkuat identitas budaya masyarakat DIY.
Selain itu, ia mengusulkan agar Dana Keistimewaan dapat dimanfaatkan untuk mendukung komunitas olahraga yang mampu mencetak prestasi. Baginya, olahraga memiliki peran penting dalam membangun karakter serta menjadi bagian dari budaya masyarakat yang patut mendapat perhatian.
"Misalnya kalau ada orang yang senang olahraga dan punya perkumpulan olahraga, itu juga bisa menurut saya dibiayai oleh dana istimewa, yang penting mereka berprestasi," ungkapnya.
Zulfikar juga menekankan perlunya dukungan bagi berbagai komunitas dan lembaga yang berkontribusi dalam pengembangan kreativitas generasi muda. Menurutnya, organisasi yang berhasil mencetak talenta-talenta muda kreatif di berbagai bidang layak memperoleh akses terhadap program pendanaan melalui Dana Keistimewaan.
"Atau ada sekumpulan orang atau lembaga yang memang kerjanya menghasilkan generasi muda yang kreatif untuk berbagai bidang, itu juga mestinya bisa didanai oleh dana istimewa," jelasnya.
Ia meyakini bahwa perluasan perspektif mengenai kebudayaan dalam pengelolaan Dana Keistimewaan akan meningkatkan manfaat yang dirasakan masyarakat. Dengan pendekatan yang lebih inklusif, Danais tidak hanya berfungsi menjaga tradisi dan warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi katalis bagi lahirnya prestasi, kreativitas, dan inovasi di berbagai sektor.
"Saya kira perluasan makna dari sisi kebudayaan itu penting, supaya makin banyak pihak yang memang merasakan manfaat dari adanya dana istimewa dari sisi kebudayaan," tutup Zulfikar.
