Anggota Komisi I DPR RI, Elita Budiati saat melakukan Kunjungan Kerja Spesifik ke Pusat Pendidikan Kavaleri (Pusdikkav) TNI AD di Kabupaten Bandung Barat, (2/6), Foto: dpr.go.id
Anggota Komisi I DPR RI Elita Budiati Dorong Penguatan Pusdikkav Hadapi Tantangan Pertahanan Modern
Jakarta – Komisi I DPR RI melaksanakan Kunjungan Kerja Spesifik (Kunsfik) ke Pusat Pendidikan Kavaleri (Pusdikkav) TNI Angkatan Darat di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (2/6/26). Kunjungan tersebut dilakukan untuk meninjau secara langsung kondisi pendidikan dan pelatihan prajurit Kavaleri sekaligus menyerap berbagai masukan terkait kebutuhan penguatan kemampuan pertahanan nasional.
Anggota Komisi I DPR RI Elita Budiati menegaskan bahwa seluruh temuan dan aspirasi yang diperoleh selama kunjungan akan menjadi bahan pembahasan dan perjuangan Komisi I DPR RI dalam forum-forum resmi bersama pemerintah, khususnya Kementerian Pertahanan dan TNI.
Menurutnya, kunjungan lapangan menjadi bagian penting dalam memahami kondisi riil satuan pendidikan militer, termasuk berbagai tantangan yang dihadapi dalam menyiapkan sumber daya manusia pertahanan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
"Kita datang ke sini bukan untuk mencari kelemahan, tetapi untuk memahami dan mempelajari bagaimana kesiapan Pusdikkav menghadapi era global seperti sekarang. Apa yang menjadi temuan dan masukan di sini harus bisa kita perjuangkan nanti saat rapat dengan Kementerian Pertahanan, Panglima TNI, dan para Kepala Staf," ujar Elita kepada Parlementaria usai pertemuan.
Politisi Fraksi Partai Golkar tersebut menilai berbagai kebutuhan yang disampaikan oleh jajaran Pusdikkav perlu mendapatkan perhatian serius dalam penyusunan kebijakan maupun dukungan anggaran sektor pertahanan. Ia menekankan bahwa masukan dari satuan di lapangan harus menjadi salah satu dasar dalam merumuskan strategi penguatan pertahanan nasional.
Salah satu isu yang menjadi perhatian Komisi I DPR RI adalah masih terbatasnya pemanfaatan teknologi modern dalam proses pendidikan dan latihan prajurit Kavaleri. Berdasarkan informasi yang diterima, sejumlah pelatihan masih mengandalkan metode simulasi dan belum didukung secara optimal oleh teknologi drone maupun sistem nirawak lainnya.
"Kita sangat miris mendengar bahwa dalam pelatihan pendidikan itu kita masih tidak memakai drone, kita tidak memakai alat-alat yang serba nirawak karena semuanya berdasarkan simulasi. Ini agak riskan. Bagaimana kalau kita tiba-tiba diserang, apa yang harus kita siapkan," katanya.
Elita menilai perkembangan teknologi militer dan perubahan karakter peperangan modern menuntut kesiapan yang lebih komprehensif, baik dari sisi sumber daya manusia maupun sarana pendukung latihan. Karena itu, modernisasi fasilitas pendidikan dan pelatihan dinilai menjadi kebutuhan yang mendesak agar prajurit memiliki kemampuan yang relevan dengan dinamika ancaman masa kini.
Selain aspek pendidikan dan latihan, Komisi I DPR RI juga menyoroti pentingnya penguatan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) di lingkungan Kavaleri TNI AD. Menurut Elita, pembentukan Batalyon Tempur (Yon TP) merupakan langkah strategis yang perlu didukung dengan ketersediaan alutsista yang memadai agar mampu menjalankan tugas secara optimal.
Dalam dialog bersama jajaran Kavaleri, Komisi I DPR RI menerima sejumlah rekomendasi terkait kebutuhan penguatan kemampuan tempur, termasuk pengadaan tank sebagai salah satu unsur penting dalam mendukung kesiapan satuan. Elita secara khusus menyoroti keberlanjutan program Tank Harimau yang merupakan produk industri pertahanan dalam negeri.
"Minimal kalau kita tidak punya Tank Leopard, Tank Harimau itu harus ada. Jangan Tank Leopard kita tidak punya, Tank Harimau pun tidak ada. Apa yang menjadi kebanggaan kita sebagai bangsa yang besar ini," tegasnya.
Ia menambahkan, penguatan industri pertahanan nasional harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun kemandirian pertahanan Indonesia. Produk-produk strategis dalam negeri, menurutnya, perlu mendapatkan dukungan berkelanjutan agar mampu memenuhi kebutuhan pertahanan nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri pertahanan Indonesia.
Sebagai tindak lanjut dari hasil kunjungan tersebut, Elita memastikan Komisi I DPR RI berkomitmen untuk mengawal berbagai rekomendasi yang telah disampaikan oleh jajaran Pusdikkav TNI AD dalam pembahasan bersama pemerintah.
"Komisi I DPR RI sudah bersepakat akan mencoba mendukung apa yang menjadi temuan-temuan di Pusdikkav hari ini," tutupnya.
Melalui penguatan sarana pendidikan dan pelatihan, optimalisasi penggunaan teknologi drone dan sistem nirawak, serta dukungan terhadap pengembangan alutsista nasional, Komisi I DPR RI berharap Pusdikkav TNI AD semakin mampu mencetak prajurit Kavaleri yang profesional, modern, dan siap menghadapi tantangan pertahanan di masa depan.
