Anggota Komisi XII DPR RI, Cek Endra
Apresiasi Beroperasinya Pabrik BYD di Subang, Cek Endra: Bukti Hilirisasi dan Momentum Percepat Transisi Energi
Jakarta, 4 September 2026 – Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Partai Golkar, Cek Endra, menyambut positif beroperasinya pabrik kendaraan listrik BYD di Subang, Jawa Barat. Kehadiran fasilitas tersebut dinilai menjadi bukti kemajuan hilirisasi industri sekaligus momentum untuk mempercepat transisi energi dan membangun ekosistem kendaraan listrik nasional.
“Kita mengapresiasi konsistensi pemerintah dalam mendorong investasi dan hilirisasi. Beroperasinya pabrik BYD menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi mulai mengambil posisi sebagai basis produksi yang menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan penguasaan teknologi di dalam negeri,” kata Cek Endra.
Berdasarkan data perusahaan per Juli 2026, pabrik BYD di Subang dibangun dengan total investasi Rp16 triliun di atas lahan seluas 126 hektare, memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 kendaraan per tahun, serta melibatkan lebih dari 10.000 tenaga kerja. Fasilitas tersebut menerapkan proses manufaktur penuh yang meliputi pengepresan panel bodi (stamping), pengelasan, pengecatan, dan perakitan.
Menurut Cek Endra, investasi tersebut perlu dilanjutkan dengan pendalaman rantai industri kendaraan listrik di Indonesia. Pengembangan berikutnya harus mencakup produksi baterai dan battery pack, motor listrik, perangkat elektronik, komponen pendukung, riset dan pengembangan teknologi, hingga industri daur ulang baterai dengan meningkatkan keterlibatan pemasok serta tenaga kerja nasional.
“Hilirisasi tidak boleh berhenti pada manufaktur kendaraan. Tingkat komponen dalam negeri dan transfer teknologi harus terus ditingkatkan. Rencana BYD membangun jaringan 100 stasiun pengisian pada 2026 serta memperluas fasilitas manufaktur dan baterai perlu direalisasikan agar Indonesia menjadi basis produksi sekaligus pusat pengembangan teknologi kendaraan listrik,” ujarnya.
Cek Endra menilai investasi BYD harus dijadikan momentum untuk memperkuat agenda transisi energi yang menjadi bagian dari visi besar Presiden Prabowo Subianto dan arah kebijakan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. BYD juga memperkenalkan teknologi pengisian berdaya tinggi yang diklaim mampu mengisi baterai dari 10 persen menjadi 70 persen dalam lima menit dan mencapai 97 persen dalam sembilan menit. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi kekhawatiran masyarakat mengenai waktu pengisian kendaraan listrik.
Untuk mendorong masyarakat semakin termotivasi dan beralih secara masif dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik, Cek Endra meminta pemerintah tetap mempertahankan insentif dan keringanan pajak. Kebijakan tersebut perlu diberikan secara terukur, dievaluasi secara berkala, serta diprioritaskan bagi kendaraan yang diproduksi di Indonesia dan memenuhi ketentuan tingkat komponen dalam negeri agar sekaligus memperkuat industri nasional.
“Dengan beroperasinya pabrik di Indonesia, BYD semestinya memperoleh efisiensi dari sisi produksi, logistik, dan rantai pasok. Kita berharap efisiensi tersebut diteruskan kepada konsumen melalui penurunan harga atau pemberian diskon dibandingkan harga sebelumnya. Apabila insentif pemerintah, produksi lokal, infrastruktur pengisian daya, dan harga yang semakin terjangkau berjalan bersama, peralihan masyarakat menuju kendaraan listrik akan berlangsung lebih cepat dan masif,” pungkas legislator asal Jambi tersebut.
