Anggota Komisi X DPR RI, Adela Kanasya Adies
Soroti Literasi Generasi Muda, Adela Kanasya Usulkan Masuk Kurikulum Sekolah dan Kampus
Jakarta — Anggota Komisi X DPR RI Adela Kanasya Adies mendorong penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) generasi muda melalui peningkatan kemampuan literasi. Salah satu langkah yang diusulkannya adalah memasukkan agenda literasi secara lebih sistematis ke dalam kurikulum pembelajaran di sekolah maupun perguruan tinggi.
Menurut Adela, kemampuan literasi generasi muda Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan sehingga diperlukan langkah yang terencana dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan menyusul kunjungan kerja spesifik Komisi X DPR RI di bidang perpustakaan dan literasi di Jawa Timur pada Kamis (20/8/26).
Ia merujuk hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang diselenggarakan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Dalam hasil tersebut, skor kemampuan membaca siswa Indonesia tercatat sebesar 359 poin, masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD yang mencapai 476 poin.
Adela menilai peningkatan kemampuan literasi menjadi bagian penting dalam upaya membangun generasi muda yang berkualitas. Menurutnya, literasi merupakan salah satu fondasi untuk membentuk sumber daya manusia unggul sekaligus mendukung kemajuan peradaban.
Upaya penguatan literasi, kata dia, tidak dapat hanya dibebankan kepada satu pihak. Diperlukan keterlibatan pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa dan kelurahan, serta masyarakat untuk membangun ekosistem literasi yang lebih baik. Dukungan tersebut juga mencakup ketersediaan anggaran dan tenaga pengelola perpustakaan yang memadai.
Berdasarkan data hingga 2024, Indonesia memiliki sekitar 219.415 perpustakaan. Namun, persebarannya masih belum merata di seluruh wilayah. Sekitar 44,49 persen perpustakaan berada di Pulau Jawa, sementara Maluku hanya memiliki sekitar 1,78 persen dan Papua sebesar 1,21 persen.
Menurut Adela, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemerataan pembangunan dan peningkatan layanan perpustakaan, terutama di wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas literasi. Ia menilai dukungan anggaran menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan ketersediaan sekaligus kualitas pelayanan perpustakaan.
"Untuk meningkatkan kualitas literasi dan kualitas SDM generasi muda, diperlukan dukungan anggaran yang memadai bagi Perpustakaan Nasional. Komisi X DPR RI terus berkomitmen mendorong dan berupaya memenuhi kebutuhan anggaran yang memadai tersebut," katanya.
Selain sarana dan prasarana, Adela juga menyoroti pentingnya penguatan kompetensi sumber daya manusia di bidang perpustakaan. Berdasarkan data Perpustakaan Nasional hingga 2026, sebanyak 5.565 pustakawan telah dinyatakan kompeten melalui proses sertifikasi.
Meski demikian, penguatan profesionalisme tenaga perpustakaan masih perlu terus dilakukan mengingat luasnya jaringan perpustakaan nasional serta beragamnya kondisi dan karakteristik wilayah di Indonesia.
Adela kemudian mengusulkan agar pengembangan literasi tidak hanya dilakukan melalui penguatan budaya membaca di perpustakaan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran formal. Menurutnya, memasukkan agenda literasi dalam kurikulum dapat menjadi langkah yang lebih sistematis untuk meningkatkan kemampuan generasi muda.
"Dalam rangka meningkatkan literasi bagi generasi muda di Indonesia, diperlukan upaya yang sistematis dan terencana, yaitu selain aspek pengembangan budaya membaca dilakukan melalui perpustakaan, juga diperlukan pengembangan literasi dengan memasukkan agenda literasi dalam kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah dan kampus," katanya.
