Menteri Bahlil Pastikan Cadangan BBM Aman di Tengah Gejolak Geopolitik

  1. Beranda
  2. Berita
  3. EKSEKUTIF / KABINET
Menteri Bahlil Pastikan Cadangan BBM Aman di Tengah Gejolak Geopolitik Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberi keterangan setelah acara Electricity Connect 2026 yang digelar di Tangerang. (22/9). Foto: ANTARA

Menteri Bahlil Pastikan Cadangan BBM Aman di Tengah Gejolak Geopolitik

Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) nasional tetap berada pada batas cadangan minimal yang ditetapkan pemerintah. Langkah tersebut dilakukan di tengah dinamika geopolitik yang berpotensi memengaruhi kondisi energi global.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah terus memastikan cadangan BBM berada pada tingkat yang aman. Menurutnya, stok nasional saat ini dipertahankan pada standar minimal antara 18 hingga 21 hari.

“Yang terpenting sekarang adalah pemerintah memastikan cadangan BBM kita itu ada pada standar minimal, 18–21 hari,” ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam acara Electricity Connect 2026 yang digelar di Tangerang, Banten, Selasa, (22/9/26).

Selain menjaga ketersediaan stok, pemerintah juga memastikan harga BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan hingga penghujung tahun. Bahlil menyebut kebijakan tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto.

Kebijakan itu menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas energi sekaligus memberikan kepastian bagi masyarakat di tengah perkembangan situasi geopolitik global.

Berbeda dengan BBM bersubsidi, Bahlil menjelaskan bahwa harga BBM nonsubsidi tetap mengikuti mekanisme pasar. Karena itu, harga BBM nonsubsidi dapat mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan harga minyak mentah dunia yang tercermin dalam Indonesia Crude Price (ICP).

“Harga BBM nonsubsidi itu akan mengikuti harga pasar. Kalau harga pasar globalnya itu ICP-nya naik, otomatis dia akan naik. Tetapi kalau harga ICP-nya turun, pasti juga dia akan melakukan koreksi,” kata Bahlil.

Situasi geopolitik global turut menjadi perhatian karena konflik di Timur Tengah dapat berdampak terhadap stabilitas pasokan dan harga energi dunia. Salah satu perkembangan yang disoroti adalah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang berkaitan dengan persoalan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan dan distribusi energi global.

Dalam perkembangan konflik tersebut, Amerika Serikat melancarkan serangan militer terhadap sejumlah lokasi di Iran. Serangan itu berlangsung di tengah kebuntuan negosiasi kedua pihak terkait persoalan pelayaran di Selat Hormuz, meskipun sebelumnya telah terdapat nota kesepahaman yang ditandatangani pada pertengahan Juni.

Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap fasilitas dan peralatan militer Amerika Serikat di sejumlah negara Arab, termasuk Arab Saudi. Serangkaian serangan tersebut dilaporkan turut menimbulkan korban jiwa dan kerusakan pada infrastruktur sipil, sehingga memicu kecaman dari sejumlah negara terdampak serta seruan penghentian serangan.

Konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang berlangsung sejak 28 Februari juga disebut telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM tetap memantau perkembangan geopolitik tersebut untuk memastikan ketahanan pasokan dan stabilitas energi nasional tetap terjaga.

Share: