Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae
Wakil Ketua Komisi V DPR RI Ridwan Bae Desak Evaluasi Keselamatan Usai Tabrakan Kereta di Bekasi
Jakarta — Insiden tabrakan kereta api yang terjadi di area Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, mengakibatkan 15 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka. Kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line tersebut kembali memunculkan perhatian publik terhadap aspek keselamatan serta operasional perkeretaapian nasional.
Berdasarkan data PT Kereta Api Indonesia (Persero) hingga Selasa (28/4/2026) pukul 15.06 WIB, seluruh korban merupakan penumpang KRL dan telah mendapatkan penanganan medis di berbagai rumah sakit. Sementara itu, sekitar 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat.
Peristiwa bermula sekitar pukul 20.40 WIB ketika sebuah taksi Green SM mengalami mogok di perlintasan sebidang Ampera, Bekasi Timur. Kendaraan tersebut kemudian tertabrak KRL rute Cikarang–Kampung Bandan dan terseret sejauh kurang lebih 100 meter. Gangguan pada jalur membuat KRL rute Jakarta–Cikarang tertahan di stasiun untuk proses evakuasi. Dalam kondisi tersebut, KA Argo Bromo Anggrek dengan rute Jakarta–Surabaya menabrak bagian belakang KRL yang sedang berhenti.
Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae, menyampaikan belasungkawa atas kejadian ini. Ia juga mengapresiasi respons cepat pemerintah, termasuk kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto untuk memastikan penanganan korban berjalan optimal. Selain itu, Ridwan mendukung langkah KAI yang menanggung biaya pemakaman korban meninggal dunia serta biaya perawatan korban luka.
Ridwan Bae menyoroti pentingnya evaluasi pada perlintasan sebidang, khususnya terkait penggunaan palang pintu otomatis dan kehadiran petugas resmi. Menurutnya, penggunaan palang manual oleh masyarakat masih memiliki risiko tinggi sehingga perlu ditingkatkan dengan sistem yang lebih modern.
“Selain itu, pembangunan flyover atau underpass di wilayah dengan lalu lintas tinggi juga perlu dipercepat untuk meminimalkan potensi kecelakaan,” terang Ridwan Bae, dalam keterangan yang diterima redaksi, Selasa, 28 April 2026.
Ia turut menekankan perlunya pembenahan pada sistem persinyalan dan komunikasi operasional yang dinilai masih harus dievaluasi secara menyeluruh. Sistem tersebut seharusnya mampu memberikan informasi secara real-time kepada masinis dan petugas stasiun guna mencegah terjadinya tabrakan. Adanya jeda waktu antara insiden awal dan tabrakan berikutnya menunjukkan pentingnya investigasi lanjutan, baik dari sisi human error maupun keandalan teknologi.
Ridwan Bae juga mendorong dilakukannya evaluasi komprehensif dan investigasi yang transparan guna mengembalikan kepercayaan publik serta memastikan keselamatan menjadi prioritas utama dalam transportasi kereta api.
