Puteri Komarudin Dorong Optimalisasi DHE SDA untuk Perkuat Stabilitas Rupiah

  1. Beranda
  2. Berita
  3. KOMISI XI
Anggota Komisi XI DPR RI, Puteri Komarudin

Puteri Komarudin Dorong Optimalisasi DHE SDA untuk Perkuat Stabilitas Rupiah

Jakarta — Anggota Komisi XI DPR RI, Puteri Komarudin, meminta Bank Indonesia memaksimalkan pemanfaatan instrumen Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) sebagai langkah strategis menjaga kestabilan nilai tukar Rupiah di tengah dinamika ekonomi global.

Menurut Puteri, optimalisasi DHE SDA menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pasar valuta asing nasional.

“Tentu, DHE SDA ini merupakan salah satu solusi kebijakan untuk penguatan nilai tukar kita hari ini. Dan, yang menjadi perhatian adalah bagaimana kita bisa mengoptimalisasi devisa hasil ekspor supaya bisa membantu stabilitas suplai valuta asing yang ada di Indonesia,” kata Puteri Komarudin yang dikutip dalam keterangan persnya, Selasa, (19/5/26).

Selain itu, Puteri menilai pengembangan pasar keuangan domestik masih perlu diperkuat agar lebih kompetitif dan mampu menarik minat eksportir menempatkan dana mereka di dalam negeri.

“Namun, harus kita akui juga, pendalaman pasar keuangan kita masih kurang. Sehingga, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mereka ingin memarkirkan dananya di Indonesia, ketika produk-produk yang mereka inginkan itu belum tersedia," ungkapnya.

Puteri juga menegaskan pentingnya sinergi antarlembaga dalam menjaga efektivitas kebijakan ekonomi nasional. Untuk itu, koordinasi yang solid antara Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Kementerian Keuangan dinilai perlu terus diperkuat guna menciptakan bauran kebijakan yang optimal.

Di sisi lain, ia turut menyoroti implementasi kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang telah digelontorkan Bank Indonesia hingga mencapai Rp388,1 triliun sepanjang 2025.

“Tentu, angka ini bukan jumlah kecil, dan harapannya memang dapat mendorong akselerasi intermediasi perbankan maupun penurunan biaya kredit di sektor riil," jelasnya.

Lebih lanjut, Puteri berharap besarnya insentif likuiditas tersebut benar-benar berdampak pada peningkatan akses pembiayaan bagi masyarakat dan pelaku usaha.

"Untuk itu, yang perlu menjadi perhatian BI kemudian, adalah bagaimana insentif likuiditas yang sudah sangat besar tadi, bisa menurunkan biaya kredit, sekaligus meningkatkan akses pembiayaan ke masyarakat,” pungkasnya.