Menteri ESDM RI Bahlil Lahadalia dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, (15/6). Foto: esdm.go.id
Menteri Bahlil: Pembukaan Selat Hormuz Tak Ubah Komitmen Impor Migas Indonesia
Jakarta – Pemerintah Indonesia menegaskan tetap berpegang pada kontrak impor minyak dan gas bumi (migas) jangka panjang yang telah disepakati dengan sejumlah negara mitra, meskipun Selat Hormuz kembali dibuka untuk lalu lintas pelayaran internasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pembukaan jalur strategis tersebut tidak akan mengubah komitmen Indonesia terhadap kontrak impor yang telah berjalan.
“Kalau persoalan impor minyak mentah, sekali pun Selat Hormuz-nya sudah dibuka, tetap kami sudah melakukan kontrak jangka panjang dengan negara-negara lain,” ujar Bahlil ketika ditemui setelah Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (15/6/26).
Meski demikian, Bahlil membuka peluang bagi Indonesia untuk mempertimbangkan pasokan migas dari kawasan Timur Tengah apabila menawarkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan sumber pasokan lainnya.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan memprioritaskan impor migas dari negara yang mampu menawarkan harga terbaik.
“Seperti yang sudah dikatakan Pak Menteri, semua alternatif kalau lebih kompetitif tentu akan diprioritaskan,” ujar Laode.
Mengenai dampak pembukaan Selat Hormuz terhadap harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP), Laode menjelaskan bahwa penetapan ICP dilakukan setiap bulan. Karena itu, perkembangan terbaru terkait pembukaan jalur pelayaran tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan dalam penentuan ICP periode berikutnya.
“Kami lihat dulu seberapa turunnya dengan adanya komitmen damai ini. Dari situ nanti kami hitung dengan formulanya,” ujar Laode.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran telah mencapai tahap final. Menurut Trump, kesepakatan tersebut akan membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz setelah penandatanganan yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (19/6).
"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah rampung," tulis Trump di platform media sosial miliknya, Truth Social.
"Dengan ini saya sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol, dan, secara bersamaan, mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut AS."
"Kapal-kapal dunia, hidupkan mesin kalian. Biarkan minyak mengalir!" kata Trump.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia terus memperkuat strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah menempatkan kemandirian energi sebagai salah satu prioritas utama dalam agenda pemerintahannya.
Menurut Qodari, berbagai kebijakan tengah disiapkan guna memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
"Bangsa ini harus mandiri. Bangsa ini harus maju. Lepas dari ketergantungan pangan, lepas dari ketergantungan energi. Itu kan semua (usaha) Pak Prabowo," kata Qodari dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (13/6).
