Anggota Komisi IV DPR RI, Dadang M. Naser saat melepas ekspor perdana produk ikan lele dari Kabupaten Bandung ke Taiwan, (6/8). Foto: trustjabar.com
20 Ton Marinasi Lele Kabupaten Bandung Diekspor ke Taiwan, Dadang Naser Apresiasi Kinerja Pembudidaya
Jakarta - Sebanyak 20 ton produk ikan lele asal Kabupaten Bandung, Jawa Barat, resmi memasuki pasar Taiwan melalui ekspor perdana produk marinasi lele. Pelepasan ekspor tersebut disaksikan langsung Anggota DPR RI Komisi IV Dadang M Naser di kompleks pergudangan kawasan Katapang, Kabupaten Bandung, Kamis (6/8/26).
Ekspor perdana ini menjadi bukti bahwa produk hasil budidaya dan UMKM perikanan Kabupaten Bandung mampu bersaing hingga pasar internasional. Keberhasilan tersebut sekaligus dinilai sebagai momentum positif untuk mendorong peningkatan kualitas budidaya lele dan sektor perikanan secara lebih luas.
Dadang M Naser mengapresiasi langkah PT Asha Nuova International yang dinilai berhasil membangun kemitraan dengan para pembudidaya ikan lele di Kabupaten Bandung. Menurutnya, keberhasilan ekspor tersebut menunjukkan produk perikanan dalam negeri mampu memperoleh akses pasar global.
“Saya atas nama Komisi IV DPR RI, mengapresiasi PT Asha Nuova International yang difasilitasi BPPMHKP (Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan) Bandung. Barang-barang yang dimiliki Indonesia betul-betul terjual ke luar (negeri) dan terfasilitasi,” ucap Dadang Naser.
Dadang mengungkapkan, PT Asha Nuova International tidak berhenti pada ekspor lele. Perusahaan tersebut juga tengah mempersiapkan ekspor ikan nila yang ditargetkan berlangsung dalam waktu dekat. Namun, negara tujuan ekspor komoditas nila tersebut belum ditentukan.
“Sebentar lagi bulan depan ada ekspor ikan nila. Tentunya untuk keperluan ekspor, kualitas ikannya harus terjaga, baik dari sisi budidayanya, kualitas airnya, maupun pakannya. Tentunya Komisi IV DPR RI sangat mengapresiasi atas capaian prestasi ini. Tidak lupa juga, kita dorong para petani, peternak, dan pembudidaya di Kabupaten Bandung untuk terus menjaga dan meningkatkan kualitasnya,” ungkapnya.
Dadang juga mengaitkan keberhasilan ekspor tersebut dengan upaya memperkuat ketahanan pangan yang menjadi salah satu program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto. Ia memastikan Komisi IV DPR RI akan terus mendorong berbagai komoditas pertanian, perikanan, dan peternakan agar mampu memenuhi kebutuhan domestik sekaligus memiliki daya saing ekspor.
“(kebutuhan pangan) Dalam negerinya terpenuhi, juga bisa ekspor. Mana yang bisa kita ekspor, mana kita harus kurangi impor. Kita bicara masalah impor garam, kita mulai stop. Berikutnya bawang putih yang masih impor, kita suatu saat harus stop. Kalau beras, sudah mandiri beras, mandiri jagung, dan banyak yang sudah mandiri yang mesti kita ekspor. Di antaranya ikan sudah surplus, kita bisa ekspor. Banyak sayur-mayur, sayur-mayur yang ekspor. Jangankan sayur-mayur yang lainnya, ini daun singkong, daun salam, itu diekspor dari sini,” katanya.
BPPMHKP Bandung Dorong Ekosistem Budidaya Lele Berorientasi Ekspor
Kepala BPPMHKP Bandung Darwin Syah Putra turut memberikan apresiasi atas ekspor perdana produk marinasi lele Kabupaten Bandung ke Taiwan. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan sinyal positif bagi pengembangan usaha budidaya ikan sekaligus dapat membuka peluang kemitraan yang lebih luas bagi pembudidaya lainnya.
“Kami melihat ini hal yang positif. Apalagi sekarang dengan adanya satu eksportir begini, kan bisa menjadi bapak angkat untuk (pembudidaya) yang lain. Dan itu juga menjadi tugas kami menjamin mutu dari hulu sampai hilir. Makanya kami melakukan sertifikasi dari cara budidaya, cara pembenihan, cara pengolahan, sampai cara penangkapan ikan di atas kapal pun kita sertifikasi. Karena sebagai syarat ekspor, kita harus memiliki *supplier* yang memiliki sertifikasi juga,” tuturnya.
Darwin mengatakan, pengembangan sentra budidaya lele di Jawa Barat terus didorong. BPPMHKP Bandung menargetkan terbentuknya 2.000 kampung budidaya ikan lele di Jawa Barat. Hingga kini, sebanyak 700 kampung telah disurvei sebagai bagian dari proses pengembangan tersebut.
Besarnya potensi produksi dari ribuan kampung budidaya tersebut, kata Darwin, membutuhkan kepastian pasar agar hasil panen dapat terserap secara optimal. Kehadiran PT Asha Nuova International dinilai dapat menjadi salah satu mitra yang membantu membuka akses pasar bagi pembudidaya.
“Kalau memang jadi, Jawa Barat ini 2.000 kampung ya targetnya? Sementara sudah 700 yang sudah disurvei, dan itu kan kalau sekian banyak produksi mau dijual ke mana? MBG juga enggak akan nampung. Tapi ini sudah ada bapak angkat ya, Asha Nuova. Kita support segala macam supaya dari hulu sampai hilir menjadi hal yang positif dan bisa menghidupkan ekonomi masyarakat,” katanya.
Darwin menambahkan, ekspor produk marinasi lele ke Taiwan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan produk, tetapi juga harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan otoritas negara tujuan. Taiwan memiliki standar dan persyaratan tertentu melalui mekanisme kerja sama MRA atau Mutual Recognition Agreement.
“Jadi ada perjanjian kerja sama, dan itu harus terdaftar dulu di sana, disetujui oleh otoritas kompeten di Taiwan. Kalau enggak, enggak akan bisa ekspor. Dan berarti kualitasnya, jaminan mutunya sudah terpenuhi, dan kami bersama teman-teman di sini membina dari awal,” ujar Darwin.
