Singgih Januratmoko Apresiasi Kerukunan Umat Beragama di Tengah Masyarakat Tengger

  1. Beranda
  2. Berita
  3. KOMISI VIII
Singgih Januratmoko Apresiasi Kerukunan Umat Beragama di Tengah Masyarakat Tengger Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Singgih Januratmoko saat melakukan kunjungan Kerja spesitik Komisi VIII DPR RI ke Pura Luhur Poten, Probolinggo, (3/9). Foto: dpr.go.id

Singgih Januratmoko Apresiasi Kerukunan Umat Beragama di Tengah Masyarakat Tengger

Jakarta — Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Singgih Januratmoko mengapresiasi kehidupan masyarakat Suku Tengger di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, yang dinilai mampu menjaga kerukunan, toleransi, dan semangat pluralisme di tengah keberagaman agama.

Menurut Singgih, hubungan antarpemeluk agama yang diwujudkan melalui sikap saling menghormati dan gotong royong merupakan contoh nyata yang patut diterapkan di daerah lain. Hal itu disampaikannya usai memimpin Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VIII DPR RI ke Komunitas Hindu Tengger, Probolinggo, Kamis (3/9/26).

“Kita memang sangat menghargai, sangat merekomendasikan sekali. Tadi ada tokoh masyarakat yang menyampaikan di sini pluralisme sangat baik, gotong royong juga baik sekali,” ujar Singgih.

Ia menjelaskan, keharmonisan tersebut terlihat dari keterlibatan masyarakat dalam mendukung kegiatan keagamaan satu sama lain. Ketika umat Hindu menggelar kegiatan keagamaan, masyarakat Muslim ikut menjaga dan membantu kelancaran kegiatan. Begitu pula saat umat Islam menjalankan kegiatan keagamaan, masyarakat Hindu turut memberikan dukungan.

“Kalau ada umat Hindu yang acara keagamaan, yang menjaga dari Islam. Kalau Islam ada kegiatan keagamaan, dari Hindu. Itu baik sekali, bisa dicontoh oleh daerah-daerah yang lain,” katanya.

Singgih menilai praktik toleransi tersebut memiliki arti penting karena masyarakat Tengger hidup dalam lingkungan yang dihuni oleh pemeluk agama yang beragam. Dari total sekitar 12 ribu hingga 14 ribu penduduk di wilayah tersebut, sekitar 40 persen merupakan umat Hindu.

Bagi Singgih, kehidupan yang mengedepankan toleransi, gotong royong, dan saling menghormati merupakan kekuatan sosial yang perlu terus dipelihara. Nilai-nilai tersebut dinilai dapat menjadi fondasi dalam menjaga persatuan masyarakat sekaligus memperkokoh keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kita berharap ini bisa dijalankan terus dan menjadi contoh juga untuk daerah-daerah yang lain. Saya rasa sangat membanggakan sekali untuk wilayah Tengger, pluralismenya, kebersamaannya, dan saling menghormatinya,” tutur Singgih.

Dalam kunjungan tersebut, Singgih mengatakan kehadiran Komisi VIII DPR RI bukan semata-mata untuk menjalankan fungsi pengawasan. Kunjungan juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi sekaligus mendengarkan secara langsung aspirasi masyarakat Hindu Tengger.

Berbagai masukan yang disampaikan masyarakat, lanjutnya, akan menjadi bahan bagi Komisi VIII dalam melakukan evaluasi kebijakan, pembahasan anggaran, maupun pengawasan terhadap pelaksanaan program Kementerian Agama RI.

Komisi VIII DPR RI juga akan terus mendorong agar layanan keagamaan diberikan secara adil, merata, dan inklusif. Hal itu mencakup pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana peribadatan serta dukungan terhadap pendidikan keagamaan.

“Nilai-nilai kedamaian, kebersamaan, dan keharmonisan ini merupakan benteng moral yang menjaga keutuhan NKRI dan kebinekaan bangsa kita,” pungkasnya.

Share: