Adrianus Asia Sidot Salurkan 23,7 Ton Beras untuk 790 Warga Landak Di Tengah Ancaman Karhutla dan Kemarau Panjang

  1. Beranda
  2. Berita
  3. DAERAH PEMILIHAN
Adrianus Asia Sidot Salurkan 23,7 Ton Beras untuk 790 Warga Landak Di Tengah Ancaman Karhutla dan Kemarau Panjang Anggota Fraksi Golkar DPR RI Dapil Kalimantan Barat, Adrianus Asia Sidot saat menyalurkan bantuan pangan bagi masyarakat Kabupaten Landak, (13/9).

Adrianus Asia Sidot Salurkan 23,7 Ton Beras untuk 790 Warga Landak Di Tengah Ancaman Karhutla dan Kemarau Panjang

Jakarta — Di tengah kondisi kemarau yang berkepanjangan dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin mengkhawatirkan di wilayah Kalimantan Barat, kepedulian terhadap kebutuhan dasar masyarakat menjadi semakin penting.

Kondisi cuaca yang kering tidak hanya meningkatkan risiko terjadinya karhutla dan kabut asap, tetapi juga membawa dampak terhadap kehidupan masyarakat, terutama mereka yang menggantungkan penghidupan dari sektor pertanian. Keterbatasan air dan kondisi lahan yang semakin kering berpotensi mengganggu produktivitas pertanian, bahkan meningkatkan risiko gagal panen apabila kemarau berlangsung lebih panjang.

Dalam situasi tersebut, Adrianus Asia Sidot menyalurkan bantuan pangan berupa komoditas beras sebanyak 23,7 ton kepada 790 penerima manfaat di Desa Pahauman, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

Kegiatan penyaluran bantuan tersebut dilaksanakan pada Minggu, 13 September 2026, bertempat di Aula Desa Pahauman. Setiap penerima manfaat mendapatkan 3 karung beras dengan total berat 30 kilogram.

Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekaligus meringankan beban keluarga di tengah situasi yang penuh ketidakpastian akibat kondisi cuaca dan lingkungan.

Adrianus Asia Sidot menyampaikan, bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian kepada masyarakat, khususnya dalam menghadapi kondisi kemarau panjang yang berpotensi memberikan dampak berantai terhadap kehidupan masyarakat.

Ia berharap bantuan yang diberikan dapat sedikit meringankan beban masyarakat, terlebih ketika kemarau yang berkepanjangan berpotensi mengganggu sektor pertanian dan menyebabkan hasil panen menurun.

“Semoga bantuan yang diberikan ini dapat meringankan beban masyarakat. Apalagi kita sedang menghadapi kondisi kemarau yang berkepanjangan seperti saat ini, yang tentu berpotensi berdampak terhadap pertanian dan menyebabkan gagal panen,” ungkap Adrianus.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Kemarau panjang membuat kondisi lahan dan vegetasi menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar. Ketika kebakaran terjadi, persoalannya kemudian berkembang menjadi masalah yang lebih luas karena asap dapat menyelimuti kawasan permukiman dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Karhutla dan kabut asap pada akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan. Dampaknya dapat menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, pendidikan, mobilitas masyarakat, hingga aktivitas ekonomi. Bagi masyarakat yang tetap harus bekerja di tengah kondisi udara yang kurang baik, situasi tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri.

Sementara bagi para petani, kemarau panjang menghadirkan persoalan lain. Berkurangnya ketersediaan air dapat mengganggu proses budidaya tanaman dan meningkatkan risiko penurunan hasil produksi. Jika gagal panen terjadi, tekanan terhadap ekonomi rumah tangga akan semakin besar karena pendapatan berkurang sementara kebutuhan hidup tetap berjalan.

Karena itu, bantuan pangan yang disalurkan kepada masyarakat menjadi sesuatu yang memiliki arti penting. Bukan hanya sebagai bantuan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga sebagai bentuk perhatian kepada masyarakat agar tidak menghadapi tekanan tersebut seorang diri.

Penyaluran bantuan ini turut dihadiri oleh Pimpinan Wilayah Bulog Kalimantan Barat, Rasiwan, Bupati Landak yang diwakili oleh Tenaga Ahli Bupati, Camat Sengah Temila bersama Forkopimcam Sengah Temila, serta Kepala Desa Pahauman, Diano, S.H., beserta jajaran.

Hadir pula seluruh masyarakat penerima manfaat yang telah tercatat dalam data penerima bantuan.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan pentingnya sinergi dalam memastikan bantuan pangan dapat diterima oleh masyarakat yang memang membutuhkan. Di tengah kondisi yang tidak mudah, kolaborasi antara pemerintah, lembaga terkait, dan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan masyarakat.

Lebih dari sekadar angka, 23,7 ton beras untuk 790 penerima menggambarkan adanya kebutuhan nyata di tengah masyarakat. Di balik setiap karung beras yang dibawa pulang, terdapat keluarga yang membutuhkan kepastian bahwa kebutuhan pangan mereka tetap dapat terpenuhi.

Sebab, ketika kemarau semakin panjang, yang dipertaruhkan bukan hanya hasil pertanian. Ada penghasilan keluarga, keberlangsungan dapur rumah tangga, dan ketahanan pangan masyarakat yang ikut berada dalam tekanan.

Begitu pula dengan karhutla. Di balik kepulan asap yang memenuhi udara, terdapat kehidupan masyarakat yang tetap harus berjalan. Ada petani yang mengkhawatirkan lahannya, ada orang tua yang memikirkan keluarganya, ada pekerja yang tetap harus mencari nafkah, dan ada masyarakat yang berharap udara kembali bersih serta kondisi segera membaik.

Karena itu, menghadapi karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api ketika kebakaran telah terjadi. Pencegahan, kepedulian terhadap lingkungan, kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau, serta perhatian terhadap masyarakat terdampak harus berjalan secara bersamaan.

Menjaga ketahanan pangan juga menjadi bagian dari upaya tersebut. Ketika masyarakat memiliki akses terhadap kebutuhan pangan, mereka memiliki sedikit ruang untuk bertahan menghadapi tekanan ekonomi yang mungkin muncul akibat kondisi alam.

Bantuan beras yang disalurkan Adrianus Asia Sidot di Desa Pahauman menjadi salah satu bentuk nyata dari kepedulian tersebut. Mungkin bantuan ini tidak dapat menjawab seluruh persoalan yang muncul akibat kemarau panjang dan ancaman karhutla, tetapi setidaknya dapat membantu mengurangi satu beban yang sedang dipikul masyarakat.

Pada akhirnya, menghadapi situasi seperti ini membutuhkan lebih dari sekadar kepedulian sesaat. Dibutuhkan kehadiran dan kerja bersama agar masyarakat tidak hanya mampu melewati masa sulit hari ini, tetapi juga memiliki ketahanan untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang muncul ke depan.

Di tengah kemarau yang panjang, ancaman karhutla, dan kabut asap yang semakin mengkhawatirkan, satu hal menjadi penting: masyarakat tidak boleh merasa berjalan sendirian.

Bantuan pangan adalah bentuk kepedulian. Pencegahan karhutla adalah tanggung jawab bersama. Dan menjaga ketahanan masyarakat adalah pekerjaan yang membutuhkan gotong royong dari semua pihak, tutup Adrianus.

Share: