Menko Airlangga Hartarto Ungkap Kesiapan RI Kembangkan Energi Nuklir di Forum UGM 2026

  1. Beranda
  2. Berita
  3. EKSEKUTIF / KABINET
Menko Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto pada UGM Nuclear Readiness Forum 2026 di Jakarta Foto : mcinews.id

Menko Airlangga Hartarto Ungkap Kesiapan RI Kembangkan Energi Nuklir di Forum UGM 2026

Jakarta – Ketahanan energi dinilai sebagai pilar utama dalam menjaga stabilitas sekaligus memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional, terutama di tengah situasi global yang kian dinamis. Dalam kerangka tersebut, Pemerintah terus mengakselerasi diversifikasi bauran energi dengan mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan.

Langkah ini juga mencakup pemanfaatan energi nuklir sebagai sumber energi baseload yang stabil, rendah emisi, serta mampu menekan ketergantungan terhadap impor energi. Hal tersebut disampaikan oleh Airlangga Hartarto dalam UGM Nuclear Readiness Forum 2026 yang digelar oleh Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada bersama Keluarga Alumni Teknik Gadjah Mada (KATGAMA) di Jakarta, Rabu (22/4/2026), sebagaimana dikutip dari RRI.

“Sebetulnya dari segi teknologi, dari segi pembiayaan, dari segi kesiapan regulasi, sebetulnya Indonesia dibandingkan dengan berbagai negara ASEAN lain lebih siap,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi terselenggaranya forum tersebut sebagai respons atas tantangan ketahanan energi nasional sekaligus dukungan terhadap target net zero emission. Menurutnya, sinergi antara Pemerintah, kalangan akademisi, dan sektor industri menjadi faktor krusial untuk mempercepat kesiapan tersebut.

Lebih lanjut, Menko Airlangga menegaskan bahwa energi nuklir merupakan salah satu opsi strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Hal ini dikarenakan nuklir mampu menyediakan pasokan energi baseload yang stabil untuk melengkapi energi fosil maupun energi terbarukan lainnya.

Pemerintah pun telah mempersiapkan berbagai aspek pendukung bagi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), mulai dari regulasi, teknologi, hingga kerja sama internasional dengan sejumlah mitra global.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah pengembangan teknologi small modular reactor (SMR). Selain itu, Indonesia juga memiliki potensi sumber daya yang cukup besar untuk mendukung pengembangan energi nuklir, dengan cadangan uranium dan thorium yang tersebar di wilayah seperti Bangka Belitung dan Kalimantan Barat.

Pemerintah menargetkan keputusan pembangunan PLTN dapat diambil pada 2027, dengan tahap operasional awal direncanakan mulai 2032 dan kapasitas mencapai sekitar 7 gigawatt pada 2040.

Dalam jangka panjang, energi nuklir diharapkan memberikan kontribusi signifikan dalam bauran energi nasional sebagai bagian dari upaya mencapai Net Zero Emission pada 2060. Namun demikian, percepatan implementasi sangat bergantung pada kesiapan eksekusi di lapangan.

Peran operator, khususnya dalam pengelolaan teknologi dan penyusunan rencana aksi yang konkret, menjadi faktor penentu. Selain itu, kesiapan sumber daya manusia dan proses transfer teknologi juga menjadi perhatian utama.

Penguatan komunikasi publik turut menjadi aspek penting guna meningkatkan pemahaman serta penerimaan masyarakat terhadap energi nuklir, sehingga keberlanjutan program dapat terjamin.

“Pengembangan PLTN juga perlu diintegrasikan dengan kebutuhan sektor industri masa depan. Sektor seperti smelter dan data center membutuhkan pasokan energi bersih dan stabil dalam jumlah besar. Oleh karena itu, penguatan infrastruktur kelistrikan, termasuk pengembangan smart grid dan konektivitas antarwilayah, menjadi sangat penting,” katanya.

Di sisi lain, Pemerintah tetap mempercepat pengembangan energi terbarukan lainnya. Energi surya menjadi salah satu prioritas utama, termasuk melalui program dedieselisasi di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Penguatan industri panel surya dalam negeri juga terus didorong guna meningkatkan kemandirian energi nasional.

“Jadi sebetulnya opportunity ini tidak boleh kita tidak manfaatkan. Dua hal yang menjadi perhatian Bapak Presiden. Satu untuk surya, karena ini hampir bisa seluruhnya memperkuat ekosistem di dalam negeri, termasuk dari hilirisasi dari pasir silika. Dan kemudian yang kedua adalah kesiapan terkait dengan nuklir,” tutur Menko Airlangga.