Menteri ESDM RI saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto
Sentimen Positif terhadap Menteri Bahlil Perkuat Citra Pemerintahan Prabowo di Ruang Digital
Jakarta - Menteri ESDM RI yang juga merupakan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menjadi salah satu tokoh yang paling banyak diperbincangkan dalam hasil pemantauan media digital. Berdasarkan temuan tersebut, Bahlil mencatat 8.213.780 terpaan konten, menempatkannya di posisi kedua setelah Gibran Rakabuming Raka yang memperoleh 8.617.236 terpaan.
Walaupun jumlah paparan kontennya sedikit berada di bawah Gibran, Bahlil menunjukkan performa yang lebih baik dari sisi persepsi publik. Sebanyak 40,1 persen percakapan mengenai dirinya bernada positif, 5,9 persen negatif, sementara mayoritas lainnya bersifat netral. Sementara itu, Gibran mencatat sentimen positif sebesar 31,4 persen dengan sentimen negatif yang lebih tinggi, yakni mencapai 25,9 persen.
Dalam pemetaan yang dilakukan SSI, terdapat lima tokoh yang masuk kategori Tier 1 Dominan, yakni figur yang memperoleh lebih dari satu juta paparan konten terkait Presiden Prabowo Subianto. Kelima tokoh tersebut terdiri atas Gibran Rakabuming Raka, Bahlil Lahadalia, Nanik/Deyang, Teddy Indra Wijaya, dan Purbaya Yudhi Sadewa.
Di luar Gibran dan Bahlil, Letkol Teddy Indra Wijaya tercatat memperoleh 3.606.181 terpaan konten dengan komposisi sentimen 24,1 persen positif dan 15,2 persen negatif. Sementara itu, Purbaya Yudhi Sadewa mengumpulkan 1.648.351 terpaan konten, disertai sentimen positif sebesar 12,2 persen dan negatif 9,5 persen.
Adapun Nanik/Deyang membukukan 7.451.724 terpaan konten. Namun, percakapan mengenai tokoh tersebut lebih banyak didominasi sentimen netral yang mencapai 85,7 persen, sedangkan sentimen positif maupun negatif berada pada porsi yang relatif kecil.
Dari lima figur dengan tingkat eksposur tertinggi tersebut, Bahlil menjadi satu-satunya tokoh yang memadukan tingkat sorotan publik yang tinggi dengan persentase sentimen negatif paling rendah. Secara keseluruhan, SSI mencatat sentimen publik terhadap Presiden Prabowo Subianto selama periode pengamatan terdiri atas 41,5 persen positif, 44,7 persen netral, dan 13,8 persen negatif.
Menanggapi hasil tersebut, Bustamin Wahid menilai bahwa dinamika percakapan di ruang digital perlu dipahami dalam konteks perkembangan politik dan hubungan antarpartai di dalam koalisi pemerintahan.
“Sebagai pengamat, saya melihat data ini menunjukkan bahwa figur seperti Bahlil Lahadalia relatif jarang menjadi sasaran sentimen negatif dibandingkan tokoh lain yang sama-sama banyak disorot publik. Ini bisa dibaca sebagai indikasi soliditas dukungan kader partai koalisi terhadap pemerintahan, meskipun tentu perlu kajian lebih lanjut untuk memastikan apakah pola ini konsisten dalam jangka panjang,” ujar Bustamin, Minggu, (5/7/26).
Menurut Bustamin, hasil pemantauan seperti ini layak terus menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan komunikasi politik di ruang digital, terutama menjelang tahapan politik berikutnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tingginya sentimen positif di media digital harus diimbangi dengan kinerja nyata agar persepsi publik tetap terjaga dan tidak sekadar menjadi statistik di media sosial.
“Data digital seperti ini bisa menjadi indikator awal, tapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang pembantu presiden. Yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana sentimen positif ini dijaga konsistensinya lewat kinerja nyata di lapangan, bukan sekadar aktivitas di media sosial. Saya juga mendorong agar lembaga riset seperti SSI terus transparan soal metodologi yang digunakan, supaya publik bisa menilai temuan ini secara utuh,” kata Bustamin.
