Anggota Komisi X DPR RI, Rycko Menoza
Rycko Menoza Minta Sekolah Rusak Berat di NTT Jadi Prioritas Pemulihan
Jakarta – Anggota Komisi X DPR RI Rycko Menoza meminta pemerintah mempercepat pemulihan sarana dan prasarana pendidikan yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Percepatan tersebut dinilai penting agar aktivitas pembelajaran bagi peserta didik dan tenaga pendidik dapat kembali berlangsung secara normal.
Rycko mengatakan, perhatian terhadap kondisi fasilitas pendidikan terdampak bencana telah disampaikan Komisi X DPR RI dalam rapat bersama mitra kerja, termasuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
“Kita pada saat terakhir kemarin rapat dengan mitra, terakhir dengan Kemendikdasmen termasuk juga dengan Kemdiktisaintek, kita juga menyampaikan bahwa prioritas pembangunan diarahkan kepada sekolah-sekolah yang rusak berat,” ujar Rycko melalui keterangan yang diterima, Rabu (16/9/26).
Menurutnya, penanganan dampak gempa pada sektor pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada rehabilitasi maupun pembangunan kembali gedung sekolah. Pemerintah juga harus memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan selama masa pemulihan agar hak pendidikan anak-anak di wilayah terdampak tidak terhenti.
Rycko mengingatkan agar peserta didik dan tenaga pendidik tidak terlalu lama berada di lokasi pengungsian. Apabila bangunan sekolah belum aman untuk digunakan, pemerintah perlu segera menyiapkan tempat alternatif yang memadai untuk kegiatan pembelajaran.
“Jangan sampai sekolah, tenaga pendidik, guru, maupun anak-anak yang memang harusnya mendapatkan waktu dan hak yang sama, mereka jangan sampai terlalu lama berada di pengungsian,” katanya.
Ia menilai penyediaan ruang belajar sementara merupakan solusi yang perlu ditempuh sembari proses rehabilitasi atau pembangunan kembali sekolah berlangsung. Dengan demikian, peserta didik tetap memperoleh kesempatan mengikuti pembelajaran meskipun fasilitas pendidikan mereka belum dapat difungsikan.
“Minimal mereka mencari tempat lain untuk bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk bisa melanjutkan kegiatan belajar-mengajar,” jelasnya.
Selain mempercepat pembenahan infrastruktur pendidikan, Rycko menyampaikan perlunya pembentukan tim khusus yang bertugas memastikan penanganan fasilitas pendidikan terdampak bencana berjalan cepat dan tepat sasaran. Tim tersebut diharapkan dapat mempercepat koordinasi pemulihan layanan pendidikan sekaligus memastikan tidak ada peserta didik yang kehilangan hak memperoleh pendidikan akibat bencana.
“Jangan sampai akibat bencana ini kemudian anak-anak kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak,” ujarnya.
Berdasarkan pendataan Kemendikdasmen hingga 10 September 2026, sebanyak 2.447 satuan pendidikan terdampak bencana gempa bumi di NTT. Dampak tersebut turut dirasakan oleh 287.864 peserta didik serta 32.585 guru dan tenaga kependidikan.
Selain itu, sebanyak 62.722 warga sekolah sempat mengungsi, yang terdiri dari 54.494 peserta didik dan 8.228 guru serta tenaga kependidikan. Besarnya dampak tersebut menunjukkan pemulihan sektor pendidikan di NTT membutuhkan penanganan menyeluruh, baik melalui rehabilitasi dan pembangunan kembali sekolah maupun penyediaan layanan pembelajaran selama masa transisi.
