Angkat Potensi Ulos, Lamhot Sinaga Dorong Ekonomi Kreatif Masyarakat Toba

  1. Beranda
  2. Berita
  3. KOMISI VII
Angkat Potensi Ulos, Lamhot Sinaga Dorong Ekonomi Kreatif Masyarakat Toba Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga saat menjadi pembicara utama dalam kegiatan Aktivasi Desa Kreatif Melalui Pengembangan Ruang Kreatif di Desa Silaen, Toba, (26/10). Foto: tvrinews.com

Angkat Potensi Ulos, Lamhot Sinaga Dorong Ekonomi Kreatif Masyarakat Toba

Jakarta – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga, mendorong masyarakat Desa Silaen, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, untuk mengoptimalkan potensi budaya dan kearifan lokal sebagai penggerak ekonomi kreatif. Salah satu potensi unggulan yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan adalah kain ulos, warisan budaya Batak yang dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.

Dorongan tersebut disampaikan Lamhot saat menjadi pembicara utama dalam kegiatan Aktivasi Desa Kreatif Melalui Pengembangan Ruang Kreatif di Desa Silaen, Senin (26/10/26). Ia menilai pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi daerah dapat membuka peluang usaha baru sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat desa.

Menurut Lamhot, setiap desa memiliki sumber daya dan karakteristik yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola secara terencana. Kekayaan budaya, keterampilan masyarakat, serta potensi lokal perlu didukung inovasi agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah dan memiliki daya saing di pasar.

“Desa memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi. Kuncinya adalah bagaimana masyarakat mampu mengolah potensi tersebut menjadi produk yang memiliki nilai tambah, daya saing, dan pasar yang jelas,” kata Lamhot.

Ia menegaskan, pengembangan desa kreatif membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perajin, seniman, komunitas budaya, hingga generasi muda dan pemerintah desa. Sinergi tersebut diperlukan agar program pengembangan kreativitas tidak sebatas kegiatan pelatihan, tetapi mampu melahirkan usaha produktif yang berkelanjutan.

Lamhot juga menyoroti pentingnya ruang kreatif sebagai wadah untuk mengembangkan ide, meningkatkan keterampilan, menghasilkan produk, serta memperluas jaringan usaha. Pemanfaatan teknologi digital turut diperlukan agar masyarakat dapat memperkenalkan dan memasarkan produknya kepada konsumen yang lebih luas.

“Ruang kreatif jangan hanya menjadi tempat berkumpul. Ruang ini harus mampu melahirkan karya, mendorong tumbuhnya usaha baru, dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Kita ingin anak-anak muda di Silaen melihat bahwa kreativitas juga bisa menjadi sumber penghidupan,” ujarnya.

Ulos Berpotensi Menjadi Produk Unggulan Ekonomi Kreatif

Dalam konteks pengembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Toba, Lamhot memberikan perhatian khusus terhadap kain ulos dan tradisi menenun yang melekat pada identitas masyarakat Batak. Menurutnya, ulos tidak hanya memiliki makna adat, budaya, dan spiritual, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif yang menjangkau berbagai segmen pasar.

Pengembangan ulos dapat diperluas melalui industri fesyen, kerajinan, pariwisata, hingga perdagangan produk lokal. Dengan strategi yang tepat, kain tradisional tersebut dapat memiliki nilai ekonomi lebih tinggi sekaligus memperluas kesempatan usaha bagi para perajin.

“Ulos merupakan identitas dan kebanggaan masyarakat Batak. Namun, kita juga harus melihat ulos sebagai produk ekonomi kreatif yang memiliki peluang pasar. Para penenun harus kita dorong agar karyanya semakin dikenal, dihargai, dan memberikan kesejahteraan bagi mereka,” kata Lamhot.

Untuk meningkatkan daya saing produk, ia mendorong perajin melakukan pembaruan pada kualitas bahan, teknik produksi, pewarnaan, dan penyelesaian produk. Inovasi tersebut tetap harus memperhatikan keaslian tradisi serta mempertahankan makna yang terkandung dalam motif ulos.

Selain menghasilkan kain untuk kebutuhan adat, para perajin juga dapat mengembangkan berbagai produk turunan, seperti tas, dompet, aksesori, dekorasi rumah, suvenir, hingga busana kontemporer. Diversifikasi produk ini diharapkan dapat memperluas pasar sekaligus menciptakan peluang kolaborasi antara penenun, desainer, penjahit, dan pelaku UMKM.

Dengan terbentuknya rantai produksi yang lebih luas, manfaat ekonomi diharapkan tidak hanya dinikmati oleh penenun, tetapi juga oleh berbagai pihak yang terlibat dalam proses pengolahan hingga pemasaran produk.

“Kalau ekosistemnya dibangun dengan baik, manfaat ekonomi ulos tidak hanya dirasakan penenun. Ada banyak pekerjaan lain yang bisa tumbuh di sekitarnya. Inilah yang kita harapkan dari pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi daerah,” ujarnya.

Perluas Pemasaran dan Integrasikan dengan Pariwisata Danau Toba

Selain meningkatkan kualitas produk, Lamhot mendorong pemanfaatan berbagai saluran pemasaran untuk memperluas jangkauan ulos. Pemasaran melalui platform digital, penyediaan katalog produk, keikutsertaan dalam pameran, serta kerja sama dengan pusat oleh-oleh dan pelaku industri pariwisata dinilai dapat membuka akses menuju pasar yang lebih luas, baik nasional maupun internasional.

Ia juga menekankan pentingnya membangun rantai nilai yang adil bagi para perajin. Dengan posisi tawar yang lebih baik, penenun diharapkan dapat memperoleh pendapatan yang layak dan berperan lebih besar dalam menentukan harga produk yang mereka hasilkan.

Di sisi lain, pengembangan ulos dinilai dapat disinergikan dengan potensi pariwisata kawasan Danau Toba. Wisatawan tidak hanya dapat menikmati keindahan alam, tetapi juga mengenal kekayaan budaya Batak melalui pengalaman melihat proses menenun, memahami filosofi motif ulos, hingga berinteraksi langsung dengan para perajin.

Dalam skema tersebut, desa kreatif dapat dikembangkan sebagai ruang yang memadukan aktivitas produksi, pameran karya, lokakarya, dan pemasaran produk lokal. Pendekatan ini diharapkan mampu memperpanjang manfaat ekonomi dari kunjungan wisatawan bagi masyarakat setempat.

Lamhot juga mengajak masyarakat Silaen untuk menggali potensi lain yang sesuai dengan karakter daerah, seperti kuliner khas, produk olahan pertanian, kerajinan, seni pertunjukan, serta berbagai jasa kreatif. Potensi tersebut perlu dikembangkan melalui inovasi desain, konsistensi kualitas, kemasan yang menarik, penetapan harga yang tepat, dan strategi pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Keterlibatan generasi muda menjadi salah satu faktor penting dalam proses tersebut. Mereka diharapkan mampu memadukan pengetahuan budaya yang diwariskan secara turun-temurun dengan keterampilan modern, mulai dari desain, fotografi produk, teknologi informasi, pemasaran digital, hingga pengelolaan usaha.

“Potensi daerah harus dikelola dengan cara-cara yang relevan dengan perkembangan zaman. Tradisi tetap kita jaga, tetapi cara memasarkan dan mengembangkan produknya harus terus berinovasi. Dengan begitu, budaya tidak hanya bertahan, melainkan juga menjadi sumber kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Bangun Ekosistem Ekonomi Kreatif Berkelanjutan

Lamhot berharap kegiatan Aktivasi Desa Kreatif Melalui Pengembangan Ruang Kreatif di Desa Silaen menjadi awal bagi terbentuknya ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Keberhasilan program tersebut, menurutnya, perlu diukur melalui pertumbuhan usaha baru, peningkatan pendapatan pelaku kreatif, terbukanya lapangan kerja, serta semakin luasnya pemasaran produk unggulan desa.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, ia mendorong pemerintah daerah, pemerintah desa, komunitas kreatif, lembaga pendidikan, pelaku industri, dan sektor swasta memperkuat kolaborasi. Bentuk dukungan yang diperlukan antara lain pendampingan usaha, peningkatan keterampilan, promosi produk, akses pembiayaan, dan perluasan jaringan pemasaran.

“Harapan kita, Silaen mampu mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi kekuatan ekonomi baru. Kita ingin masyarakat semakin produktif, UMKM tumbuh, penenun semakin sejahtera, dan generasi muda memiliki kesempatan untuk berkarya di daerahnya sendiri,” ujar Lamhot.

Melalui pengembangan ruang kreatif dan optimalisasi potensi lokal, Desa Silaen diharapkan mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif Kabupaten Toba. Upaya tersebut sekaligus menjadi langkah untuk menjaga warisan budaya Batak agar terus berkembang, relevan dengan perubahan zaman, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lintas generasi.

Share: